In Arts and Poetry Events

About Cosplay & Komutoku Gath at IDS


Cosplay, terdiri dari kata Costume dan Play. Merupakan sebuah kegemaran mengenakan kostum dan berperan menjadi tokoh-tokoh fiktif. Biasanya, tokoh yang diperankan diambil dari science fiction, komik, atau animasi dan live-action. Cosplay, juga bisa diartikan sebagai aktualisasi kostum, si pemakai kostum berkewajiban beraksi sebaik mungkin sesuai karakter kostum yang dikenakan. Orang yang melakukan cosplay disebut sebagai cosplayer.

Para cosplayer tidak mengenal batasan usia, jenis kelamin, bahkan daerah manapun ia berasal. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi seseorang tertarik bermain cosplay. Pertama, cosplayer ingin menciptakan ulang bentuk karya seni dua dimensi (komik/animasi/live-action) menjadi tiga dimensi (nyata), merupakan tantangan bagi seorang cosplayer untuk menciptakan kostum karakter favoritnya. Kostum karakter seni dua dimensi memiliki keunikan tersendiri, bahkan sebagian di antaranya terlihat mustahil untuk diciptakan dalam dunia nyata, baik dikarenakan bahan yang sulit didapat atau karena teksturnya nan rumit. Kedua, seorang cosplayer biasanya juga dianggap sebagai seseorang yang memiliki apresiasi terhadap anime (animasi ala Jepang), manga (komik khas Jepang), live-action, atau game. Ketiga, sebagai wahana ekspresi diri. Dalam festival cosplay, sering ditemui karakter yang dimainkan merupakan karakter dengan sifat yang tidak terlalu jauh dari sifat asli atau bahkan alter-ego cosplayernya sendiri.

Popularitas cosplay di Jepang memunculkan kesalah-pahaman bahwa cosplay merupakan suatu spesifikasi hobi yang berasal dari Jepang ataupun Asia. Peristilahan cosplay, menurut orang Jepang, justru menjelaskan fenomena yang terlihat di Amerika. Selama hampir 50 tahun, penggunaan kostum telah menyebar dan berlanjut pada pertumbuhan popularitasnya di Amerika Utara dan Eropa. Bahkan belakangan ini sempat merambah ke Amerika Selatan hingga ke Australia.

Di Barat, cosplay pada awalnya menggunakan konsep kostum science fiction (fiksi ilmiah) dan historical fantasy (cerita-cerita fiksi sejarah) sebagai bentuk perlawanan dari versi animasinya. Para cosplayer Barat lebih terbiasa untuk membuat ulang dan memerankan karakter dari serial live-action seperti Star Trek, Star Wars, Doctor Who, The Lord of the Rings, dan Harry Potter daripada cosplayer Jepang. Pada dasarnya, serial animasi menjadi dasar utama untuk seluruh cipta kreasi kostum. Cosplayer Barat terkadang juga memasukkan unsur sub-kultur lokal, baik sebagai apresiasinya terhadap kampung halaman ataupun sekedar hobi. Seperti seorang cosplayer yang juga menyukai hal-hal berbau sejarah pasti setidaknya memasukkan sedikit unsur pakaian gaya abad Renaissance atau kostum perang sipil pasca Perang Dunia I.




Dewasa ini banyak ditemui para cosplayer bertipikal pecinta anime atau manga. Meningkatnya popularitas anime di luar Asia selama akhir tahun 1990-an, memicu peningkatan cosplayer Barat yang tertarik memerankan karakter-karakter dari Negeri Sakura tersebut. Para pecinta anime di Barat pun semakin bertambah. Mereka berkompetisi dengan cosplayer karakter science fiction, komik, dan historical fantasy dalam sebuah festival setiap tahunnya. Pada event semacam ini, para cosplayer bertemu dan melepas lelah dari setiap profesi kerja sehari-hari. Saling mengambil foto, menukar nomor kontak, dan bertanding dalam kontes kostum terbaik.

Seperti yang dilakukan KomuToku dalam gathering yang diselenggarakan di International Design School (IDS), Gedung Syariah Mandiri Lt.3, Jl. Sultan Hasanuddin no. 57 Jakarta Selatan, Rabu (23/12/09).

Event itu dimeriahkan dengan pemutaran dan dikusi film Tomica Heroes Rescue Fire, Pameran Action Figure & Magazine Tokusatsu, temu muka dengan Komutoku Senshi Legion (Maskot Komutoku) dan Tokusatsu Heroes-Live, juga berbagi ilmu dan pengalaman tentang Sejarah Komutoku, Peranan Komutoku dalam masyarakat luas, Efek film Tokusatsu pada masyarakat, serta Pembuatan kostum dan mengikuti kegiatan Cosplay.



Dalam event tersebut, KomuToku bekerja sama dengan IDS dan Beoscope.com untuk menggarap sebuah film yang bercerita tentang super hero lokal Indonesia

”Banyak orang mengira kami adalah komunitas cosplay tokusatsu, walau sebenarnya bukan itu tujuan kami. Cosplay hanya menjadi salah satu kegiatan rutin kami sebagai bentuk apresiasi terhadap keinginan member untuk menjadi tokoh jagoan mereka. Selain itu kami juga melihat kegiatan ini dapat membantu kami dalam hal mempromosikan tentang Tokusatsu supaya lebih mudah dan cepat diterima masyarakat awam. Tujuan kami sebenarnya adalah pembuatan film Tokusatsu made in Indonesia” ujar Richfield Edbert selaku General Manager KomuToku saat pengambilan gambar profile komunitasnya di IDS Television Studio, Rabu (23/12/09).

KomuToku merupakan singkatan dari Komunitas Tokusatsu. Sebuah komunitas untuk para fans Tokusatsu atau film super hero Jepang live action yang berbentuk organisasi.

Tokusatsu itu sendiri merupakan singkatan dari tokushu satsuei (Bhs. Jepang) yang berarti trik pengambilan gambar menggunakan special efek. Dalam perkembangannya, istilah tokusatsu kemudian digunakan untuk menyebutkan suatu genre film live-action Jepang yang bercerita tentang satu atau sekelompok super-hero berkostum (bertopeng) unik dan menggunakan spesial efek. Pada awalnya, tokusatsu hanya diciptakan untuk anak-anak. Terlihat dari kemasannya yang sederhana dan penuh warna seperti Ultraman, Kamen Rider, Gavan dan semacamnya. Kini, tokusatsu berkembang daya jangkaunya untuk remaja dan orang dewasa tanpa mengesampingkan versi untuk anak-anaknya. Dengan cerita yang lebih kompleks, kostum lebih realistis, dan special efek yang tidak kekanak-kanakan, tokusatu mampu meraih penggemar tidak hanya di Jepang, namun juga di luar Jepang. Bahkan, termasuk Indonesia.







(Istimewa-Richfield Edbert, terlihat perbedaan karakter sang ketua Komutoku ketika ia mengenakan kostum skullman dan ketika tidak mengenekan kostum)

KomuToku tidak hanya menjadi wadah semata bagi para fans tokusatsu, tapi juga mempunyai visi dan misi ke depan. Secara bertahap KomuToku berusaha mewujudkan dan membangun infrastruktur, prasarana serta sarana dalam tubuh organisasi sampai kepada jaringan partner di luar keorganisasian KomuToku, seperti yang terlihat dari hubungan kerjasamanya dengan IDS dan beberapa organisasi lain yang juga bergerak di bidang ide kreatif.

KomuToku berdiri tahun 2006 bersamaan dengan terbitnya majalah Tokusatsu di Indonesia. Komunitas ini resmi memakai nama KomuToku pada tahun 2007 dengan harapan meneruskan perjuangan komunitas yang sudah terbentuk solid pasca berakhirnya masa terbit majalah tersebut. Kegiatan sehari-hari komunitas ini berpusat pada forum website www.komutoku.com dan komutoku.multiply.com.

“Untuk menjadi member cukup kunjungi web dan register langsung di sana. Aktifasi member otomatis. Komutoku bukan komunitas yang eksklusif, tapi terbuka oleh siapapun. Syaratnya hanya satu, suka Tokusatsu.” tambah Richfield yang juga akrab dipanggil Richie.





Text: Sultan Isnainsyah - Berbagai Sumber
Foto: http://www.facebook.com/richfield
(International Design School - Sabtu, 26 Desember 2009)








Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar