In Arts and Poetry

Air Mata Malin Kundang


Air mataku berlinang
berlimpah dan
mengaliri kulit hitamku
menyeberangi pori demi pori
melewati hidungku yang belang
menyentuh bibirku yang manis
menggelantungi daguku yang tinggi
dan menyatu
melepas semua asa
mengarungi udara hampa
menghadang kesunyian
menghabisi akhirnya

Air mataku jatuh
dan berakhirlah sudah
memberi awal suatu zaman
bersama masa silamku

Dahulu kutahu ada Mawar Emas
yang membawaku ke Negeri Seberang
dengan bekal tanpa cekal
kukejar dengan garang
tak peduli betapapun badai menghadang
tak peduli apapun halang merintang
kuterjang terobos dengan gila
kuhabisi dengan buta

Air susu kubalas air tuba
Ibuku tak henti mencoba
menghadangku dengan badai nasihatnya
ku tak peduli jua
berakhirlah ia dengan derita

Kini kusadari tinggi daguku
belang hidungku, manis bibirku
dan ringan tanganku

Mawar Emas kudapat sudah
namun durinya menusuk, menembus, membelah
hasratku mencabik birahiku
memecah bulir darah terakhir

O, Ibu
Tak kudengar nasihatmu
kumenangis di atas kuburmu
kubur yang kubuat dengan tanganku
Ampuni aku !
Kini ku bersujud membatu
dengan tetesan air mata terakhirku
yang membawa masa silamku
memohon ampunmu

Ibu
Kuberi tahu padamu
Akulah Malin Kundang
Anakmu
Yang tak mengakuimu


Sultan Isnainsyah
Depok, 25 Maret 2006


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar