In Arts and Poetry Events

Gebrakan Festival Kreatif Paling Seru Tahun Ini!






















Melihat kondisi lapangan pekerjaan ketika banyak generasi muda lulusan perguruan tinggi sulit mencari kerja, orientasi pendidikan harus mempunyai paradigma baru. Jika dahulu orang berpikir untuk sekedar mencari kerja setelah lulus kuliah, maka saat ini lulusan perguruan tinggi dituntut untuk mempunyai kemampuan lebih dari ilmu yang dituntutnya di bangku kuliah, yaitu enterpreneurship. Bukan sekedar mencari pekerjaan, melainkan mampu menciptakan lapangan kerja tersendiri.

Di sisi lain, dewasa ini komunitas tak lagi sekedar menjadi tempat berkumpul dan berbagi pengalaman, melainkan juga menjadi sebuah inkubator bagi tumbuhnya bisnis baru yang berpotensi di masa depan. Ini disebabkan sifat dasar dari setiap komunitas kreatif yang tidak mudah puas dan senang bereksplorasi. 

Dari sekian banyak komunitas di Indonesia, komunitas kreatif mempunyai potensi berkembang menjadi bisnis besar. Bahkan, beberapa orang sukses di bidang kreatif seperti perfilman, musik atau bisnis online juga berangkat dari komunitas dan hobi. Berawal dari sekedar penikmat sebuah hobi, berlanjut menjadi pekerja produktif dalam bidang yang dicintai. Inilah yang kemudian disebut sebagai creative enterpreneur (Creativepreneur).

Indonesia memiliki 5,4 juta pekerja kreatif dan kesempatan untuk sedikitnya 500 ribu pekerja kreatif, bahkan mereka yang mampu menciptakan pekerjaan sendiri. Saat ini jumlah perusahaan di sektor kreatif mencapai 2 juta perusahaan. Dengan antisipasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, sedikitnya diperlukan 200 ribu creativepreneurs dan creative leaders dapat memimpin perusahaan-perusahaan berbasis kreatif ini. Jumlah ini adalah potensi luar biasa yang mampu menggebrak dinamika perekonomian tanah air.

Sebagai institusi pendidikan bertaraf internasional, IDS | International Design School berusaha mendidik para siswanya untuk menjadi creativepreneur. Sebuah solusi untuk menyelamatkan generasi muda tanah air dari kesulitan memeroleh lapangan pekerjan. Hal ini terlihat ketika IDS mempertemukan lebih dari 20 komunitas kreatif menjadi satu untuk berbagi ilmu dan pengalaman, baik untuk sesama anggota komunitas maupun masyarakat umum, dalam rangkaian besar sebuah festival kreatif yang disebut IDS Creative Festival.

Rangkaian besar tersebut menyajikan IDS Creative Festival Press Conference dan IDS Creative Discussion pada tanggal 14 April 2010, berpuncak di IDS Creative Festival pada tanggal 17 April 2010, dan berakhir di IDS High Yearbook Competition pada tanggal 8 Mei 2010.
IDS Creative Discussion merupakan diskusi panel dengan pembicara para pakar kreatif tanah air, perwakilan media dan komunitas untuk berbagi informasi mengenai program dalam kemajuan industri kreatif dan pendidikan. Diskusi yang menjadi titik awal dari IDS Creative Festival dengan durasi satu jam untuk tiap sesi ini cukup dapat menghadirkan ide-ide kreatif. Terdiri atas dua sesi dengan dua tema berbeda, Media Transformation in the New Media Ecosystem pada sesi pertama, dan Education for Future Creative Entrepreneurs pada sesi kedua. 



Diskusi ini ditutup dengan pemberian plakat kepada setiap pembicara serta kesimpulan dari Creativepreneur Evangelist dan Founder IDS Andi S. Boediman yang mengatakan bahwa untuk menjadi seorang creativepreneur dengan model future sustainable pada dasarnya haruslah memahami tiga pilar utama, yakni products, acces to market, dan attraction factor.
Pada puncaknya, Festival dengan tag-line Festival Kreatif Paling Seru Tahun Ini! menghadirkan lebih dari 20 komunitas kreatif se Jakarta – Bandung dengan konsep yang belum pernah ada sebelumnya. Mulai dari komunitas GantiBaju[dot]com, Flick Magazine, Mobile Monday Indonesia, Deviant Art Indonesia, Masyarakat Komik Indonesia (MKI), Hobbism, House of Icons, Carving Nation, Bogalakon Pictures, Beoscope[dot]com, Paper Replica Indonesia (PERI), YUI-Indo Community, Indonesian Macintosh Society (ID-Mac), Indonesia Kreatif (ID-Kreatif), Belajar Kreatif, Wardrobe, Forum Design Grafis Indonesia (FDGI), Goelali Foundation, Indonesian Advance Micro Device (AMD Indonesia), Mig33, TransMania, Ayo Foto, Hitman System, Freedom of Sharing (FRESH), Jakarta Twitter User Group (JTUG), Komunitas Tokusatsu Indonesia (KOMUTOKU), FOWAB, Indo CG, Kutu CG, Indonesian 3DsMax User Community, KOMPAS Muda hingga komunitas Parkour Jakarta diperkenankan untuk melakukan pameran, workshop singkat, talkshow dan berbagai kegiatan lainnya yang merepresentasikan orientasi komunitas kreatif tersebut kepada khalayak. Uniknya, semua itu dilakukan dalam durasi satu jam secara bergantian di area yang berbeda-beda. Hampir di setiap sudut areal festival dapat ditemui satu atau lebih komunitas yang melakukan presentasi, talkshow, workshop atau hanya sekedar pameran dalam waktu bersamaan. Beberapa diantaranya dimoderatori oleh media partner yang turut mendukung terselenggaranya IDS Creative Festival.



Beberapa saat sebelum festival ini dimulai Mahasiswa/i IDS angkatan 10 dan 11 sempat melakukan Theaterical Art tanpa dialog yang bercerita tentang dua kekuatan bertentangan yang melahirkan fantasi-fantasi kreatif, yang pada akhirnya menyatu menjadi motivasi diri untuk mewujudkan fantasi tersebut. Theaterical Art tersebut diakhiri dengan penekanan sebuah replika tombol “Ctrl” oleh Andi S. Boediman, bersama perwakilan organizing partner dan Hanung Bramantyo, sebagai salah satu sutradara paling kreatif di tanah air`sat ini. Penekanan tombol ini selain merupakan perlambangan Launching IDS, juga menandakan dibukanya IDS Creative Festival yang diiringi Opening Teaser Animation karya Rully Rochaedi (Kor.Jurusan Animasi IDS).

Festival dilanjutkan dengan Meet & Greet Artist serta Rilis Film “Menebus Impian” karya Hanung Bramantyo. Para pengunjung dapat berfoto bersama para artis pemeran film tersebut, seperti Acha Septriasa, Haikal, dan Joshua.



Tak kalah seru, masing-masing komunitas peserta festival ini pun tak malu-malu menampilkan keunikan masing-masing. Seperti komunitas GantiBaju[dot]com yang memasang baju raksasa seukuran 2 meter sebagai backdrop booth pameran mereka, MKI dengan showcase komik-komik lokalnya, KOMUTOKU yang tampil dengan cosplay ala tokusatsu-nya, PERI dengan pameran paper model-nya, Deviant Art Indonesia dengan 20 karya Ilustrasi terbaiknya, Wardrobe dengan kamera-kamera lomonya, Hobbism dengan sculp toys-nya, dan masih banyak lagi hal unik lainnya yang hanya dapat ditemui dalam IDS Creative Festival.

Festiva l yang dihadiri lebih dari 5000 orang pengunjung ini berlangsung dari jam 11 pagi hingga jam 9 malam di Rasuna Epicentrum Walk (EpiWalk). Tak tanggung-tanggung, lantunan lagu Acha Septriasa dan band-band Indie seperti YUME Band dari YUI-Indo Community, Morgen bis Abend dan Terumbu Karang dari Kompas Muda, serta thedyingsirens dan SOULFLOU pun ikut memeriahkan IDS Creative Festival.

Epiwalk sendiri mencirikan dirinya sebagai tempat yang tepat untuk melahirkan ide – ide kreatif bagi semua orang. Tidak terbatas hanya pada orang yang bekerja di bidang kreatif saja, namun juga bagi siapa pun tanpa melihat usia dan pekerjaan. Oleh karena itu EpiWalk dan DDW (bc: Double D, Double U) pun dengan senang hati bekerjasama sebagai organizing partner dalam IDS Creative Festival.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar