In Arts and Poetry

Sprinter



Hari ini, aku pulang dari kegelapan yang selama ini menghantuiku. Perlahan kubuka mata, mencoba memahami kenyataan yang kan terjadi pada diriku. Begitu cahaya yang menyilaukan itu menyingkir dari penglihatanku, terdengar sorak riuh begitu dekat dengan telingaku. Kulihat orang-orang itu mengawasiku dengan tajam dan begitu santai, dengan jagung bakar dan segelas minuman cola di tangan mereka membuat bulu romaku berdiri tajam. Beberapa di antara mereka yang mengawasiku ada yang membawa spanduk berbunyi Ayo! Maju Terus!



Di mana aku? Ketika kakiku bertemu dengan tanah, ku perhatikan lahan yang kupijak berwarna oranye dan dibatasi oleh dua garis putih di kiri kanannya. Kurasakan, mereka yang mengawasiku mengepungku hingga aku berada di tengah-tengah mereka. Dan dari sampingku, entah sejak kapan dan dari mana muncul seorang berbadan kekar berseragam hitam-hitam dengan pistol di tangan kirinya. Tanpa sepatah kata pun diangkatnya pistol itu tinggi-tinggi, dan ditembakkannya ke langit lepas.



D o r ! Spontan kakiku melangkah ke depan, berlari dengan begitu cepatnya. Sempat ku berpikir untuk apa aku berlari? Tapi tak pernah terpikir jawabnya. Yang kurasakan saat itu hanyalah kenyamanan. Angin yang menerpa setiap sendi tubuhku terasa begitu menyegarkan, kulihat mereka yang mengawasiku mulai bergerak menjauhiku atau apa aku yang menjauhi mereka? Ah, terserahlah yang penting tak ku lihat lagi wajah mereka yang membuat bulu romaku tegak.



Tapi, walaupun begitu bulu romaku tak juga turun-turun karena suara sorak riuh mereka masih terngiang-ngiang di telingaku walau tak begitu jelas. Aku terus berlari. Mengejar atau mungkin menghindari sesuatu yang tak pernah kuketahui dan tak pernah terpikir olehku, di otakku cuma terbersit tulisan Masa Bodoh. Tak jauh beberapa meter di depanku tergeletak seekor kucing melarat, kelaparan tergambar di wajahnya.



Namun, tak sampai berapa detik kakiku sudah melompat melangkahinya tanpa menengok sekalipun. Aku berlari, dan terus berlari tiada merasa capai sama sekali, mengitari mereka yang mengawasiku. Serasa melintasi ruang dan waktu, tak berujung. Seperti berada di atas kereta, ya! kereta kaki! Angin yang berseliwer deras seakan menghapus sorak riuh mereka yang mengawasiku. Hanya suara angin yang membekas di kupingku. Rasa bosan mulai menyelimuti diriku. Sendiri itu sepi. Ku berharap ada seseorang yang dapat menemaniku dalam perjalanan tak berujung ini.



Terdengar suara nafas memburu dari belakangku. Tak berapa lama setelah aku berharap, muncul seorang pria berbadan bengkak alias otot semua entah dari mana. Ia seorang kulit hitam, ia juga berlari sepertiku. Tapi, ia lebih terlihat seakan memburu sesuatu tepat di depannya. Baru saja aku mencoba bertanya siapa namanya, ia sudah jauh di depanku hanya nomor yang tertera di punggungnya saja yang terlihat olehku 45.



Dengan spontan ku tatap nomor yang juga tertera di dadaku 66, entah apa arti sebuah nomor aku juga tidak mengerti. Padahal, kalau saja si 45 itu mau menemaniku sejenak mungkin aku bisa membuatkannya secangkir kopi. Tapi, sudahlah si bosan sudah keburu ingin meniduri-ku lagi. Aneh, terasa aneh. Dari tadi aku tidak merasa capai walau sedetik pun, pernah ku coba menghentikan kereta kakiku ini namun, itu juga tak berhasil.



Aaaah, untuk apa aku berlari? Dimana ini? Keluarkan aku dari sini! Kata-kata itu tiba-tiba saja terbersit di benakku. Entah apa yang terjadi. Perlahan kurasakan, kereta kakiku bisa kukendalikan. Mungkin aku tak bisa menghentikannya, tapi ku coba memelankannya. Dan .... Berhasil! Kereta kakiku tak lagi berlari sekencang tadi, jika aku bisa memelankannya hingga kecepatan nol mungkin aku bisa menghentikannya pikirku.



Pelan, pelan, dan semakin pelan. Mereka yang mengawasiku pun muncul perlahan, namun punggungku serasa menabrak sesuatu. Tidak! Ditabrak sesuatu, satu persatu mereka muncul dari balik punggungku, menabrakku entah sengaja entah tidak. Tapi, mereka semua bergerak sangat cepat, semakin menjauhiku, jauh ke depan meninggalkanku di belakang mereka. Tak sempat ku bertanya ada apa?, bahkan nomor punggung mereka pun tak jelas terbaca olehku.



Siapa mereka? Mereka yang bernomor punggung itu terus saja berlari. Sedangkan aku? Ah, akhirnya kereta kakiku berhenti jua. Tak tahu kenapa, karena usahaku kah? Mungkin pikirku. Tapi, capai terasa di sekujur tubuhku. Terdengar sorak riuh kecewa dari mereka yang mengawasiku jelas di telingaku. Keringatku mengucur deras. Nafasku berlari menggantikan aku. Penglihatanku kabur, tapi kurasakan seseorang menghampiriku, menyentuh bahuku.



“Hei, nak kamu tidak apa-apa?”

Nak? Siapa Kau? Siapa yang kau panggil Nak? Aku sudah tujuh belas tahun!
“Hei, Nak!? Heii!..”


Hanya itu kata terakhir yang kudengar entah dari mulut siapa ku tak pernah tahu. Mereka yang mengawasiku mulai menghilang, suara riuh itu pun tak terdengar lagi, entahlah apakah nafasku masih bersamaku atau ia ikut menghilang?



Kelam, sendiri, sepi, chaos. Hal-hal yang kubenci muncul kembali, kegelapan yang telah lama kutinggalkan hadir dan menyelimutiku kembali. Aku tak suka ini! Dimana Aku!? Sesuatu! Jawablah! Hening. Tiada apa pun yang datang menghampiriku. Lalu, orang itu muncul. Pria berambut pirang yang disisir klimis, dengan dandananya yang perlente itu mendatangiku. Tidak! Dia hanya mendekatiku. Matanya tajam, menusuk mata batinku, membuat jantungku berdebar. Ah! Aku tak suka ini! Siapa Kau?



“Siapa kau?”

Eh, Apa – apaan ini? Kenapa dia yang bertanya duluan?Memangnya siapa dia?
“Lancang pikiranmu anak muda!”
Hah!? Apa katanya? Apa yang dibicarakannya?
“Aku membicarakanmu.”
Eh? Apa maksudnya? Tunggu dulu....., kau membaca pikiranku?
“Ya. Tak hanya itu, aku tahu kau.”
Tenang, kata-katanya setenang awan di langit namun menusuk jiwaku. Lalu bibirnya yang tipis itu tersenyum. Aku tak suka melihat senyumnya.
“Melelahkan ya? Berlari di atas hidup yang penuh teka-teki.”
Kau....Apa kau salah satu dari mereka yang mengawasiku?
Pria itu menaikkan dagunya tinggi-tinggi. Matanya semakin menusukku. Sial! Dadaku sakit.
“Untuk apa kau mengetahui diriku anak muda?”
Karena kau sok tahu. Seolah-olah aku terlahir dari rahimmu. Kenapa tak kau tanya pada dirimu sendiri, dasar tolol!?
“Kenapa? Apa kau bertanya pada dirimu sendiri? Apa kau tahu siapa dirimu? Kenapa kau tidak tahu siapa dirimu? Apa kau tahu?”


Sial! Apa-apaan orang ini, tapi... terbersit di benakku pertanyaan Siapa Aku? Dan berjuta tanya serangkai Dimana aku? Darimana aku? Apa yang terjadi? Tidak! Ini tidak benar! Tapi, Apa dia tahu? Katanya dia tahu aku. Apa dia tahu semua tentang diriku? Atau mungkin juga semua yang kupikirkan sekarang. Jelas! Dia kan bisa membaca pikiranku. Hei, orang tolol! Apa kau tahu?

Orang itu diam saja. Dia hanya menatap mataku. Keringatku muncul kembali, entah darimana.


“Apa yang kau lakukan di sini?”

Eh, dia bukannya menjawab, malah bertanya lagi. Kurang ajar!
Tapi, pertanyaan itu membuat bibirku bergetar. Tak satupun jawaban melintas di benakku.
“Kau ingin semua pertanyaanmu di jawab?”
Ya! Apa kau bisa menjawabnya?
“Kalau begitu siapa yang tolol sekarang? Huh, Kaulah yang harus menjawab pertanyaanmu sendiri”
Hah!? Apa maksudnya?
“Aku datang dari kegelapan. Dan kau? Darimana kau datang?”
Diam. Mataku berputar mencari jawabnya tapi tak kutemukan jua. Pria itu semakin mendekatiku.
“Dulu, begitu hebatnya kau membanting kegelapan ke belakang punggungmu. Sekarang kau kembali. Untuk Apa?”
Untuk apa? Katanya untuk apa? Bodoh! tak kuinginkan diriku disini. Tapi, kenapa aku ada di sini?
“Pikirkan jawabmu sendiri!”


Hening. Pria klimis itu mulai mengitari tubuhku, dengan ketenangan dan ketajaman matanya.

“Untuk apa kau berlari? Kenapa kau berlari? Apa suara pistol itu menakutimu? Kenapa kucing itu kau biarkan melarat? Mana yang lebih berarti? Sebuah nama atau dampingan angka yang kau sebut nomor? Untuk apa kau kembali? Bukankah kau sudah memunggungi kegelapan dari hidupmu? Siapa kau? Kami tak suka menerima orang yang tak jelas asal-usulnya, orang yang tak bisa menjawab pertanyaan hidupnya tak pantas berada di sini. Kami tak suka kau di sini. Pergilah! Keluar dari kegelapan
ini. Temukan jawabanmu sendiri!”


Sial! Apa yang terjadi?Aku hanya bisa bernafas. Bernafas? Dari mana saja kau hei nafas? Keringatku, Nafasku, semuanya kembali padaku. Kurasakan kakiku tak lagi berpijak, dan orang itu mengawasiku dengan tajam. Angin pun kurasakan mengalir dari puncak bahuku, mengibas rambutku yang gondrong. Orang itu pun perlahan menyeruak dalam kekacauan batinku dengan kepekatan kegelapan yang dibawanya.



Dan, menghilang.

Kosong. Sampai akhirnya dia datang padaku, suara itu.
“Nak?”
siapa itu?
“Nak, kamu kenapa?”
Kucoba terka suara itu tapi tak terpikir olehku sebuah nama, karena aku memang tak bernama.
Siapa aku?
Apa ada yang bisa menjawab? Hening. Suara itu muncul lagi
“Nak, bangunlah!”


Bangun? Ya! Bangun! Itu jawabannya, aku harus terbangun dari kegelapan untuk menemukan jawabanku!

Saat itu, kurasakan kerinduanku pada mereka yang mengawasiku, mereka yang bernomor punggung, keinginanku berkenalan dengan si 45 itu, penyesalanku untuk kucing yang melarat itu.
Menyesal? Tak ada gunanya menyesal! Pikirku.
Untuk mencari jawaban itu aku harus bangun !


Perlahan kubuka mataku, berharap dapat memberi makan si kucing, berkenalan dengan si 45 dan mereka yang bernomor punggung, dan mencari tahu siapa mereka yang mengawasiku. Namun, setelah cahaya menyilaukan mataku itu menyingkir yang kudapati hanyalah seorang wanita tua menyeka keringat yang menyeberangi pori tubuhku. Aku terkejut, ku coba dudukkan tubuhku yang tertidur.



Tak bisa ku percaya, tidak ada lagi semua itu, tidak ada mereka yang mengawasiku, mereka yang bernomor punggung, si 45, si kucing lapar, si penembak pistol atau si klimis perlente itu sekalipun. Mataku terbelalak, mencoba pahami kenyataan yang telah terjadi. Wanita tua itu pun pergi setelah menyempatkan menyunggingkan senyumnya padaku walau sejenak, ia berkata “Nak, kamu tidak ke sekolah hari ini?”.



Kuputar kepalaku ke arah cermin yang kebetulan ada di sana. Kupandangi yang di dalam cermin itu. Dan berjuta tanyaku selama ini dijawab olehnya. Akhirnya, kupahami kenyataan yang selama ini terjadi padaku. Kusadari bahwa aku hanyalah seorang pemimpi yang masih sangat muda. Aku tersenyum dan berkata



“Ya, mak aku ke sekolah.”

(Depok, 07 Juli 2007)


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar