In Brand Story

Sebuah Karakteristik Baru Dalam Institusi Pendidikan Tingkat Internasional


Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individuum, artinya yang tak terbagi. Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan individu jika unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak lagi disebut sebagai individu. Setiap manusia memiliki keunikan atau ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang pesis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Sekalipun orang itu terlahir secara kembar.


Karakteristik yang khas dari seseorang sering kita sebut dengan kepribadian. Menurut Nursyid Sumaatmadja, kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi biopsikofisikal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologinya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari pengaruh orang lain. Selama manusia hidup ia tidak akan lepas dari pengaruh masyarakat, di rumah, sekolah, dan di lingkungan yang lebih besar manusia tidak lepas dari pengaruh orang lain. Oleh karena itu, manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, makhluk yang dalam hidupnya tak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain.



Dalam buku Dig Your Well Before You’re Thirsty, Harvey Mackay mengatakan bahwa sesungguhnya setiap manusia memiliki aspek daya jual, baik seputar pengalaman, pengetahuan, keterampilan, kompetensi, minat, sasaran, maupun visi. Yang tentunya aspek ini akan semakin meningkat daya jualnya bila diimplementasikan secara intensif dalam kehidupan sehari-hari melalui beragam kegiatan networking yang tidak hanya nongkrong namun juga turun langsung dalam kancah pergaulan cerdas. Kegiatan lobby semacam ini pada akhirnya bersasaran agar kita tidak hanya “mengenal” orang lain namun juga agar kita “dikenal” oleh orang lain, publik khususnya. Hal ini dikemudian hari akan memberikan dampak pada kita untuk tidak dikenal sebagai orang yang hanya mau mendekati orang lain bila ada maunya.

Di IDS | International Design School, seorang tutor yang membimbing saya mengatakan bahwa untuk dapat dikenal orang lain secara spontan maka kita perlu melakukan sebuah demonstrating high value (DHV) tahap awal kita berkenalan dengan siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Konsep yang ia tawarkan tentang DHV kepada saya dan teman-teman cukup membuat kami terkesima saat itu. Semua itu hanya dilakukan dengan proses remembering yang cukup sederhana. Siapa sangka, dalam jangka waktu tidak hampir satu hari penuh, kami sudah merasa sedemikan akrab dengan seorang animator muda Indonesia yang juga bekerja di IDS, yang tentu saja sudah sangat saya kagumi sebelumnya.




International Design School adalah institusi pendidikan di bidang visual communication. Berdiri sejak tahun 2000, menyediakan pendidikan bagi peserta yang ingin menyiapkan diri dan meningkatkan kompetensi untuk bekerja di industri advertising, graphic design house, production house, post production house, televisi dan bebagai perusahaan lain di bidang visual communication.

Dalam era globalisasi, peningkatan jumlah desainer menemukan bahwa berada di suatu tempat dalam pekerjaan mendesain yang spesifik menimbulkan perasaan seakan datang dari suatu tempat khusus, lebih dari di manapun dan pada akhirnya tak di manapun tak menjadi penting. Hari ini desainer bekerja dalam orientasi ekonomi secara global. Begitu globalisasi membuka pasar baru, desainer harus sering berada di barisan depan, menyesuaikan merek dan produk dengan budaya baru. Dalam menyoroti semua ini, meningkatnya jumlah desainer menunjukkan pentingnya berhubungan dengan tempat dan sekitarnya untuk menimbulkan rasa identitas dan sebagai sumber inspirasi untuk berhubungan dengan konsumen yang merasa terasingkan dan tidak terhubung berdasarkan pengalaman mereka dalam masyarakat global. Dari sudut pandang konsumen juga ada kerinduan pada produk desain yang asli dan lokal, sekalipun mereka berada di belahan lain dari bumi dan sangat terkucilkan dari tempatnya. Ironinya adalah makin menyadari kita akan segala sesuatu yang terjadi di manapun, semakin kita berhubungan dengan sesuatu di suatu tempat. Dalam usaha mencapai fokus dan akhirnya identitas pembaca publikasi mencari gema yang selokal mungkin sekalipun kelokalan ini ada pada belahan lain dunia. Akan sangat menjadi berbahaya bila desain menjadi sengat international, mudah diakses dan disesuaikan. Akan menjadi lunak dan kehilangan kebebasan dan referansi global yang memberitahu anda bahwa ini sesungguhnya berasal dari suatu tempat.




Internet adalah suatu metoda distribusi murah dan efektif, dimana desainer didukung untuk dapat menciptakan suatu format yang efektif. Desainer grafis tidak lagi membatasi aktivis yang bersifat usahawan. Mereka adalah produk desain grafis yang tradisional seperti buku dan majalah. Dengan demikian, tercipta suatu gagasan dibelakang produk bahwa mereka pantas menjadi penopang gaya hidup zaman sekarang. Dengan menjadi makin terdistribusi secara interdisiplin dan kolaboratif, persoalan kompleks muncul bila berbagai disiplin berkolaborasi. Segala macam tantangan baru terbentuk yang terangkum dalam pertranyaan: “bagaimana mengatur tim yang tersebar secara global dan besar namun tidak terbentuk?” Teknologi pun akhirnya menjadi kunci utama. Dengan peralatan berbasis web seperti blog memungkinkan terjadinya sebuah presentasi secara on-line.

Walaupun begitu, banyak desainer baru bekerja dengan tidak dihalangi oleh konsep sebagai regu besar, mereka mempunyai suatu generasi baru yang tidak digunakan untuk batasan antara praktek kreatif.

IDS kemudian membuka kesempatan magang bagi siswa SMK/SMU dan mahasiswa yang sifatnya Internship Company, dengan dibekali sebuah pengetahuan konseptual serta skill yang meliputi kemampuan untuk mengenal dan memiliki kemampuan memvisualisasi perusahaan secara keseluruhan, untuk mengenal aneka fungsi manajemen yang terdapat dalam situasi tertentu.

Kemampuan untuk dapat mengkonseptualisasi yang memerlukan imajinasi, pengetahuan luas, serta kapasitas mental untuk menciptakan gagasan-gagasan abstrak, sehingga kemudian dapat ditransformasikan menjadi sebuah bentuk gagasan kongkrit dengan cara sederhana adalah suatu karakteristik khas pengetahuan yang tidak akan dapat kita temui di tempat manapun selain di IDS.



Sultan Isnainsyah
Berbagai Sumber

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar