In Arts and Poetry

Tjerpenis



Entah apalah arti kata itu. Mungkin hanya sebuah istilah. Ya, istilah bagi para penghayal yang sering kali menghibur kita dengan khayalannya. Ceritera pendek. Itulah yang menjembatani khayal mereka dengan khalayak. Ck, dahulu cerpen kulirik pun tidak. Bukan gayaku kalau harus bercerita di depan khalayak. Apalagi, berlagak seperti seorang tjerpenis. Namun demikian, sastra tetap saja berkembang seiring berputarnya poros-poros bumi. Terkadang terpikir juga di benakku tentang apa yang harus kulakukan jika tiba saatnya aku harus menulis sebuah cerita. Berkhayal. Apa yang bisa aku khayalkan? Aku bukan seorang penghayal, aku bukanlah seorang yang biasa disebut sastrawan. Sialnya, itu terjadi hari ini.

Ibu guru Bahasa Indonesiaku memberikan tugas kepada murid-muridnya. Mengarang sebuah cerita. Dalam bentuk bebas tentunya, dengan konsep pengalaman pribadi. Entah pengalaman pribadi yang kita alami ataupun pengalaman pribadi orang lain. Manalah kutahu semua itu! Menceriterakan pengalaman pribadiku sendiri? Ah, terlalu memalukan bagiku. Mengorek pengalaman orang lain? Huh, bukan levelku. Ayolah ibu! Kenapa harus menulis? Murid-muridmu tidak ada yang pintar menulis. Kami ini bukanlah Jules Verne atau siapa itu? Sastrawan Inggris yang berkata “apalah arti sebuah nama?” Oh, ya William Shakespeare. Apakah kau menginginkan kami menjadi seperti mereka? Hmm, boleh juga. Jadi, apa yang bisa kami tulis?

Tidak ada. Satu huruf pun enggan melekat di atas kertas folioku. Angin sepoi-sepoi mengibas rambutku dari jendela kelas. Dahi mengkerut, pena digigit, rambut diusap, dagu ditopang. Begitulah gaya sahabat-sahabatku, mencari ide yang hendak dituliskan.

Lucu juga memandangi mereka satu per satu. Reaksi mereka begitu spontan ketika si ibu guru menyatakan untuk menugaskan sebuah cerpen. Ada yang kecewa, ada juga yang bersemangat. Mereka terlihat begitu berapi-api ketika menaruh huruf demi huruf yang kemudian menciptakan untaian kata-kata dan akhirnya berpadu menjadi beberapa kalimat dalam satu paragraf utuh. Sebagian dari mereka, juga tersenyum simpul ketika menyelesaikan paragraf demi paragraf. Mereka tampak begitu menikmatinya.

Beragam tanya menyeruak di benakku. Apa yang mereka rasakan ketika menulis? Kenapa mereka tampak begitu senang? Bagaimana mereka bisa menikmati hal yang sama sekali bukan gayaku? Siapa orang tua mereka? Penuliskah? Atau redaktur kah? Ah, masa bodoh dengan semua itu. Kutatap kertas folio itu untuk yang kesekian kalinya. Selalu hanya satu kata yang terucap olehku. “Kosong.”

Tidak ada yang bisa kulakukan. Diantara wajah-wajah sahabatku ternyata banyak juga yang bernasib seperti diriku. Khayal-khayal itu enggan menyinggahi kepala mereka. Entah mereka memang bukan penghayal sepertiku, ataukah mereka itu tukang khayal yang tak bisa berkhayal?


Tak tahu lah apa-apa yang mereka kerutkan di kening mereka. Apakah mereka merasa perut kosong dan terpikir masakan ibunda di rumah? Kenapa mereka tidak menulis? Bagaimana mungkin mereka hanya bisa menunggu khayalan turun dari langit? Dan bagaimana denganku? Apa yang harus kulakukan?

Tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada yang tahu.

Ya sudah. Ku samakan garis tipis di kiri-kanan kertas itu. Lalu, kutulis saja apa yang ingin kutulis. Tak ku hiraukan segala peraturan dan EYD yang baru saja dijelaskan ibu guru Bahasa Indonesia itu. Masa bodoh dengan segala macam fiksi, diksi, aksi atau apalah itu. Ku tuang kata demi kata yang terlintas di benakku, tak perduli apa jadinya nanti. Waktu ku yang tersisa untuk menyelesaikan tugas sialan ini cuma lima belas menit lagi. Dan tuntutan si ibu guru, cerita haruslah mengisi penuh dua lembar kertas folio.

Kagum juga melihat begitu cekatannya tanganku menulis rangkaian kata dan membentuknya menjadi sebuah kalimat. Lama – lama, kurasakan juga kenikmatan merangkai kalimat demi kalimat membentuk sebuah paragaraf utuh. Kenikmatan menuangkan beban kenyataan hidup yang merayap masuk ke dalam khayalku.

Menulis. Suatu hal yang begitu menyenangkan. Menyusupi saluran nafasku, mengaliri darahku, memacu jantungku berdebar lebih kencang, merasuki hasratku, melepas jiwaku dan membawanya ke asmaraloka. Memabukkan. Ya, baru kupahami semangat berapi-api para tjerpenis yang selalu bangkit di masa muda mereka. Tak pernah kukira rasa yang datang seperti ini.

Kusatukan semua rangkaian paragraf dan mengakhirinya dengan sebuah titik. Begitu bersemangatnya diriku menyatukan paragraf-paragraf itu, tak kusadari waktu yang ditentukan telah kulewati dari tadi. Tak lagi kulihat seorang pun murid menulis, bahkan ada pun tidak di kelas itu. Hanya si ibu guru yang berdiri tepat di depanku. Menatapku dengan tatapan yang ku tak ketahui maknanya. Dia hanya tersenyum. Setelah mengambil tugas cerpen yang terpapar di mejaku, dia pun berbalik pergi tanpa sepatah kata pun. Aku tercengang. Semilir angin mencoba menenangkan ku.

Sesal rasanya menulis cerita sependek itu. Cerita yang ku tulis itu cuma dua lembar portofolio! Hei, ibu guru cerita itu belum selesai! Kenapa kau merebutnya tiba-tiba dari tanganku? Sial! Tak kan kubiarkan hal ini terulang. Lihat saja, akan ku tulis lebih banyak dari itu! Berapa yang kau mau? satu juta halaman!? Cih, lihat aku hei ibu guru! Lihat dan bacalah cerpen yang telah kubuat nanti! Pasti tidak hanya koran yang memuatnya. Paman Sam pun akan membaca cerpen yang kubuat! Kupastikan hei ibu guru! Aku akan menjadi seorang tjerpenis!

Ah, begitu optimisnya diriku ketika mengucapkan kata-kata itu. Tapi, itu semua telah berlalu. Sepuluh, atau mungkin lima belas tahun sudah. Semua kenanganku akan ibu guru Bahasa Indonesia itu telah menjadi motivasiku untuk terus hidup dengan karya-karyaku.

Seratus, ah mungkin lebih. Tak terhitung lagi jumlah tulisanku yang dimuat koran-koran itu. Esai, novel, puisi, kritikan, dan banyak macam lagi tulisanku terpapar di kolom koran-koran itu. Entah sudah berapa juta perusahaan penerbit bersedia memberiku uang hanya untuk beberapa untaian kata yang terangkai dalam beberapa paragraf utuh.

Tak tahulah kenapa akhir-akhir ini selalu kuperhatikan kepadatan kata, diksi, aksi dan nilai fiktif dalam setiap cerpen yang kubuat. Ya, tidak ada alasan lain bagiku untuk berkata tidak dalam hal ini. Mungkin, hanya si ibu guru Bahasa Indonesia itu yang bisa menjawabnya. Cuma dia yang tahu sebab-musabab ilmu yang ia tempelkan ke otakku tak lepas jua hingga sekarang.

Tapi, tanganku tak akan berhenti menulis sampai di sini. Hei, ibu guru. Satu hal yang belum kupenuhi sampai sekarang. Paman Sam belum membaca cerpen-cerpenku. Bukan karena ia tak sempat membaca, melainkan tulisankulah yang belum sampai ke tangannya. Waktu bukanlah masalah. Hanya saja, tulisan-tulisanku itu belum mempunyai paspor ataupun visa.



Zaman pun terus berjalan. Kubiasakan perubahan demi perubahan yang berjalan tetap dalam hidupku. Istri dan anakku selalu bangga dengan diriku. Entah karena karyaku atau karena wajahku masih terlihat segar di mata mereka.


Raden, putra tunggalku. Harapanku, tumpuan hidupku. Ia memang tak harus menjadi seperti diriku. Seorang penghayal yang selalu berkutat dengan buku dan tulisan. Namun, masih banyak yang tak kumengerti darinya. Ketika ia remaja, gayanya selalu harajuku . Begitu lulus kuliah, dengan murah hati dijabatnya posisi inker untuk penerbit komik Paman Sam. Sampai akhirnya, ia pun menikah dengan Elizabeth.

Bukannya, aku tidak senang dengan segala perbuatannya. Tapi, tidak kah sekalipun melintas di benaknya bangsa Indonesia? Jujur, aku kecewa padanya saat itu. Saat itu? Ya, hanya saat itu. Rasa bangga dan kagum pun mulai di berikannya pada ku. Setelah setahun menginap di rumah Paman Sam, nasionalisme anak itu masih tersisa. Walaupun cuma dengan setetes tinta. Aku senang.

Tidak kusangka ternyata Raden juga senang menulis. Dia juga berhasil membuatkan paspor dan visa untuk tulisan-tulisanku. Yah, kuyakin rasa itu sudah mulai menggerogotinya.

Semangat berapi-api para tjerpenis yang selalu bangkit di masa muda mereka. Tak pernah kukira Raden juga merasakannya. Pasti rangkaian kata itu telah menyusupi saluran nafasnya, mengaliri darahnya, memacu jantungnya berdebar lebih kencang, merasuki hasratnya, melepas jiwanya dan membawanya ke asmaraloka.

Memabukkan. Itulah yang dirasakannya ketika menulis.

Seluruh tulisan yang dibuatnya tak ada koran yang tak menerimanya. Ah, seperti masa mudaku saja. Kalau dulu aku menulis dalam Bahasa Indonesia untuk bangsa Indonesia. Sedangkan kau Raden, tulisanmu berbicara tentang Indonesia dan kau persembahkan untuk dunia..

Namun, bagaimanapun juga Raden menulis dalam Bahasa Inggris. Kuharap ia tidak lupa dengan akar budaya.

“Ya, ayah. Raden tidak akan melupakan ajaran ayah untuk selalu mencintai bangsa dan budaya. Karena, Raden adalah putra ayah sekaligus putra bangsa ini. Bangsa Indonesia.”

Begitulah yang dikatakannya didepanku yang sudah tak berdaya ini. Aku bangga dengan anakku yang bangga dengan bangsanya.. Aku terharu dengan segala perbuatan anakku. Dia rela beringsut sebentar ke gubuk kecilku untuk menengokku yang semakin berumur ini. Raden juga sudah bersusah payah mengumpulkan biaya kanker hati yang entah sudah berapa tahun bersarang di tubuhku. Tapi, sudahlah anakku. Semua itu tidak perlu lagi.

Nah, ibu guru. Tidakkah kau lihat? Tulisanku dan tulisan anakku sekarang sudah dibaca Paman Sam. Pada akhirnya, aku bisa menutup mataku dengan tenang.

Aku senang.



Sultan Isnainsyah
Depok, 10 Agustus 2007




Related Articles

3 komentar:

  1. Wah, ceritanya memberitahukan kepada audiens bagaimana nikmatnya menulis. Tulisan yang bagus,,
    lanjut, Gan! Saya akan selalu setia membaca..
    :)

    BalasHapus
  2. kurang kata2 kaligrafinya aja boss yang ga ada?

    BalasHapus
  3. @annemu : kata2 kligrafinya maksud apa? sy kurg faham ni ^^

    @manshurzikri thx ya zik ^^ sama2

    BalasHapus