In Brand Story

Industri Kreatif Indonesia, Mimpi Kosong?

Setiap insan kreatif harus memiliki mimpi besar sedari awal terjun berkegiatan dalam dunia kreatif. Sebagian ada yang menginginkan industri komik dan animasi di Indonesia mampu berdiri sendiri, sebagian ada yang menginginkan dunia perfilman Indonesia mampu menyaingi industri perfilman Hollywood, sebagian lagi merasa miris akan perkembangan industri musik dan pertelevisian yang dirasa semakin tidak edukatif dan inspiratif bagi kehidupan sosial saat ini.

Apakah masa depan kehidupan industri kreatif Indonesia akan menjadi sebuah mimpi buruk?

Adalah sebuah kolaborasi ekstrem, ketika seorang Chief Innovation Officer, musisi kenamaan, tokoh dari lembaga kebudayaan asing, hingga freelancer Graphic Designer duduk dalam satu kelas, untuk kembali mengkaji dan menemukan solusi permasalahan Industri Kreatif tanah air saat ini.

Di ruangan kelas dengan peralatan multimedia, satu per satu mereka maju mempresentasikan sebuah konsep bisnis kreatif untuk memajukan dan memperbaiki ‘kecacadan’ Industri kreatif saat ini. Inilah yang terjadi dalam kelas pascasarjana kolaborasi IKJ | Institut Kesenian Jakarta dan IDS | International Design School, Creative Media Enterprise. Sebuah kelas dengan program yang mampu menggabungkan konsep-konsep kreatif dengan konsep bisnis yang saling imbang dan saling isi satu sama lain.

Tak banyak masyarakat menyadari bahwa untuk membangun sebuah Industri Kreatif yang berkelanjutan dan mampu bersaing secara global, Indonesia membutuhkan kolaborasi antara kreativitas seni, bisnis, serta sains & teknologi.

Program yang sudah dimulai sejak November 2010 ini, membuat Maylaffayza, seorang violist kenamaan yang mendapatkan beasiswa untuk menggali ilmu Creative Media Enterprise selalu terlihat antusias ketika banyak fakta tentang Industri Kreatif dipahaminya secara lebih mendalam dan komprehensif.

Para tokoh industri kreatif masa depan ini kini duduk sebagai mahasiswa pascasarjana Creative Media Enterprise, ditantang untuk memilih, menciptakan ekosistem bisnis dengan produk murahan tapi cepat laku? Atau ekosistem bisnis dengan produk berkualitas seni tinggi namun, tak mampu bersaing secara ekonomi? Atau produk keatif dengan kualitas seni tinggi dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional?

“Indonesia membutuhkan 200 ribu Creative Leaders dan Creative Entrepreneur (Creativepreneur) untuk membuka mata dunia akan eksistensi Industri Kreatif Indonesia, ...” ujar Arianto Bigman – Director of IDS | International Design School.



Related Articles

3 komentar:

  1. Butuh lebih banyak lagi Praktisi Industri Kreatif, menghadapi tantangan pasar yg semakin flat, salut bwt Sultan tulisannya mantab, jd termotivasi nih

    BalasHapus
  2. Mohon dukungannya untuk pekerja kreatif depok. Jika berkenan mohon soundingkan di twitter ya Bro Sutan : http://www.facebook.com/pages/Depok-Creativeworkers/260703523957799

    Ini lahandi yang S2 IDS :)

    BalasHapus