In Brand Story

Aha, Reduce - Reuse – Recyle!



Jakarta, ibukota yang semakin menua. Semua orang menginginkan wajahnya menjadi cantik meski usianya semakin senja. Pekerja kantoran itu sering mengomel setiap pulang kerja, “Jakarta, mau berangkat macet, mau pulang macet juga..”

Aku tak pernah mengerti apa yang ada di benak setiap orang. Menginginkan kenyamanan, tapi sama sekali tidak bergerak untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Aku sering mendengarkan celotehan bocah dari setiap nafas yang melangkah bersamaku. Ragam cerita melontar dari mulut mereka. Wanita malam, pejabat, orang kreatif, seniman, pedagang, bahkan pemuka agama pun tak pelak sering juga keluarkan keluh dari bibir manisnya tentang kota ini dan kehidupannya.

“Andai ibukotaku ini seperti Tokyo..” pikirku. Hobiku menonton film-film Asia membuatku berimajinasi tentang penataan kota yang lebih baik. Pedestrian “eksklusif” diperuntukkan hanya untuk pejalan kaki, jalur-jalur khusus bagi pengguna sepeda, lampu merah yang ‘cerdas’ , dan, sampah. Ya, aku selalu mengidamkan Jakarta yang bersih dari sampah.

Ini hanya perkiraanku, murni subjektif, mungkin hampir 80% kegiatan sehari-hari kita menghabiskan lebih dari 10 kali penggunaan plastik dan barang – barang berpotensi menjadi sampah permanen lainnya. Aku tak paham dengan green living concept yang ‘cerdas’ itu, tapi kurasa konsep reduce-reuse-recycle (pemakaian daur ulang) akan cukup membantu mengurangi jumlah sampah. Walau tidak sepenuhnya.

Semua orang heboh adu bicara tentang konsep green living yang lebih hebat dan efisien menurut mereka. Aku tak perduli. Aku tak perduli konsep mana yang lebih hebat. Toh, aku bukan “orang pintar”. Aku hanya perduli pada tindakan realistis apapun yang bisa aku jalani, yang bisa masyarakat jalani.

Tingkat pendidikan rendah membuat sebagian besar mereka sulit memahami konsep-konsep ‘cerdas’ itu. Meski sampai 4 ember busa raksasa penuh oleh teriakan pemerintah & LSM, belum tentu masyarakat mampu memahaminya. Sejauh ini, setahuku, hanya mereka yang berpendidikan tinggi yang mampu menyerap konsep green living yang katanya akan membuat hidup lebih sehat.

Entah kenapa, tiba-tiba aku berfikir, bahwa masalah sebenarnya terletak pada attitude masyarakat itu sendiri. Entah kurang jelas apa tulisan peringatan “Dilarang merokok” itu besar-besar nampang di sudut toilet umum mall baru itu, tapi satpam dan para penjaga toiletnya malah nongkrong sambil ngebul di bawah tulisan tersebut. Saat kutanyakan kepada mereka, satpam itu mengelus kumisnya dan berbisik “Ah, bung ini, santai saja, mumpung gak ada bos saya di sini. Kita kan di lantai 6, agak repot kalau mesti turun ke bawah untuk menghisap sebatang-dua batang. Kalau bung mau, ambil saja..”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala saat satpam itu menyuguhiku dua batang rokok. Mungkin ia tak tahu akan jadi apa paru-paruku jika aku berhasil ‘terhipnotis’ olehnya.

Otakku kembali memutar konsep reduce-reuse-recycle ketika seorang ibu dengan dua orang anaknya lewat di depanku. Ia tampak khawatir dengan wadah bekal makanan untuk anaknya, satu, dua, tiga, empat, hingga lima kali ia bolak-balik mencuci wadah bekal itu. Kupikir, anaknya mengidap penyakit tertentu hingga ia harus mencucinya berulang kali. Tapi, beberapa saat kemudian ia berkomentar “Duh, gimana caranya bisa yakin kalau plastik wadah ini gak kecampur sama makanan?” , aku pun tersenyum mendengarnya dan spontan berucap “Berdo’a bu. Makanlah rezeki anda dengan keyakinan penuh atas perlindungan Tuhan, InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja.” Ia pun tersenyum simpul dan mulai terlihat sedikit percaya diri menyalin makanan untuk anaknya ke dalam wadah tersebut.

“Reduce, Reuse, Recycle.. Tupperware is for everybody’s healthy lifestyle..” iklan salah satu produsen wadah makanan ternama itu tiba-tiba bernyanyi nyaring dari TV di toko elektronik yang kulewati.



Membuatku berfikir, menalar dan memutuskan suatu tindakan.

Harus ada yang memulai semua ini. Meski aku tak memahami konsep green living sepenuhnya, setidaknya aku mengerti bahwa sampah, akan semakin menumpuk jika ia terus – menerus di biarkan menggunung.

Dan melalui iklan itu, aku mengerti, bahwa Tupperware menyadari posisinya sebagai brand yang meproduksi wadah makanan pun harus perduli terhadap lingkungan. Tupperware memproduksi wadah-wadah makanan yang tak hanya berfungsi sebagai wadah makanan semata, melainkan juga sebagai 'kulit' kedua dari makanan yang kemudian masih bisa diolah lagi menjadi bentuk lain. 


Siklus daur ulang memang hanya akan mengurangi jumlah sampah. Namun, jika aku tidak memulainya dari sekarang, maka aku akan sama saja dengan satpam mall yang merokok dibawah tulisan “Dilarang Merokok” itu. Jika aku bisa meyakinkan tetanggaku yang baik hati dan tidak sombong untuk memulai gaya hidup reduce-reuse-recycle, maka selamanya ia akan membuat gunungan sampah agar tak bisa lagi aku mengintipnya ketika mandi. Jika ia yakin dengan perkataanku, setidaknya ia bisa meyakinkan ayahnya yang menjabat sebagai wakil rakyat itu untuk juga berbuat hal yang sama. Jika ayahnya sudah ter-‘hipnotis’ untuk menjalankan reduce-reuse-recycle, maka bukan hal yang mustahil selanjutnya ia akan ‘menghipnotis’ anda dan seantero negeri ini melalui siaran –siaran televisi.

Aku tak bisa terus-menerus berfikir dan mengkritik. Aku harus memulainya sekarang!

Related Articles

10 komentar:

  1. Bener banget gan. Gausah jauh2 liat aja singapore. Beuh... Jauh bgt dah sama endonesya. Hehe...gapore. Beuh... Jauh bgt dah sama endonesya. Hehe...

    BalasHapus
  2. good article and nice idea mas, tapi kalo dipikir-pikir ya, sepertinya MIMPI saja menginginkan jakarta bak tokyo atau paling banter singapura, selama RAKYAT dan PEMERINTAHNYA gak kompak,,,
    susah mas..
    kita berdoa sajalah..

    BalasHapus
  3. setuju banget, utk apa2 kita teriak2 menyarankan pada orang lain tapi kita sendiri gak melakukan apa2, yg terpenting MENJADI CONTOH bukan MEMBERI CONTOH.

    Tq ya kunjungannya.

    BalasHapus
  4. :) Jakarta yah tetap begitu, termakan usia juga masih bisa bohai lho, masih tetap cantik :)

    saran yang super istimewa, kebiasaan 3R itu memang sudah sepantasnya berlaku di muka bumi, hanya saja masih teramat sedikit yang menyadari pentingnya 3R

    BalasHapus
  5. Dear all, thanks ya atas komentar & kunjungannya, anyway kurasa saatnya kita bisa memulainya bbersama-sama :)

    BalasHapus
  6. Salam

    Yups, memulainya bersama akan terasa ringan..
    Salam kenal kawan, ijin follow yach..

    Ditunggu follow back ya..

    BalasHapus
  7. “Andai ibukotaku ini seperti Tokyo..” pikirku. Hobiku menonton film-film Asia membuatku berimajinasi tentang penataan kota yang lebih baik.

    ^
    done, Rika suka kalimat di atas itu Tenma! ;) dan setuju tentang attitude masyarakatnya yang nggak peduli lingkungan. Jakarta nggak akan berubah walaopun pake konsep apapun kecuali masyarakatnya bisa peduli dan ikut andil buat kebersihan Jakarta. no offense hoho.

    BalasHapus
  8. nice :) semoga kita bersama-sama dapat menjaga lingkungan untuk bumi yang lebih baik yah :)

    BalasHapus
  9. suka sama kalimat ini "Membuatku berfikir, menalar dan memutuskan suatu tindakan." emang harus bertindak dari diri sendiri ya :)

    BalasHapus
  10. setuju gan!

    menurut ane, salah satu cara paing mudah menyelamatkan lingkungan adalah beralih ke bisnis digital. alasannya: "zero waste"

    BalasHapus