In Wanderlust

It’s about how to sell you!




Di ruang kantor nan terlihat nyaman itu duduk dua orang pemuda. Pria pertama bernama Jonathan, dandanannya rapi, mengenakan kemeja putih, celana bahan hitam dan sepatu kulit ternama. Pria kedua bernama Alam, ia hanya mengenakan kaos hitam polos, bercelana jeans, dan sepatu kets putih yang terlihat sedikit sobek pada lapisan luarnya. Kedua pria ini adalah peserta interview kerja di sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang pengembangan internet. Tebaklah, manakah yang menurut anda berkemungkinan besar diterima kerja di perusahaan tersebut? Etz, jangan yakin dulu!


Telah banyak ditemui ragam artikel mengenai tips khusus melamar pekerjaan. Mulai dari tips berpakaian dan berpenampilan menarik di hadapan si pewawancara, tips menghadapi psikotest, hingga tips untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan wawancara kerja pun sungguh sangat mudah anda temui hanya dengan menanyakannya pada Mbah'Google’. Bagi sebagian orang, artikel-artikel ini diakui dapat memotivasi dan memberikan inspirasi untuk menghadapi wawancara kerja, bahkan ada beberapa orang mengakui keberhasilan tips tersebut. Apakah betul tips-tips ini benar-benar bekerja seperti yang dibayangkan?



Ya, melamar pekerjaan adalah hal yang lumrah bagi para sarjana yang baru saja lulus kuliah atau bisa juga bagi para mahasiswa/i yang tengah menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Namun, apakah pekerjaan yang dilamar adalah segalanya? Sehingga si pelamar rela melakukan ‘apapun’ untuk mendapatkannya? Nanti dulu, mari kita tanyakan pada diri kita terlebih dahulu, mana yang jauh lebih berharga, diri anda atau perusahaan tempat anda melamar?



Seorang pakar hypnotherapy mengutarakan hal yang berbeda mengenai hal ini, menurutnya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan sebenarnya hanya diperlukan satu kunci sukses.  “Life is a game. Jadi, katakan tidak pada ngarep..” ujarnya.



Perasaan deg-deg-an , gugup, dan tidak percaya diri pada saat wawancara kerja seringkali menimbulkan ilusi-ilusi ‘takut gagal’ pada seseorang. Hal ini ternyata dilandasi perasaan ngarep yang cukup mendasar ketika niatan melamar kerja meluncur dari pemikiran seseorang. “Kalau cowok mau pedekate sama cewek, biasanya akan muncul ilusi-ilusi ‘duh ntar kalau gini gimana ya’ baik secara sadar atau tidak. Ini pun sama halnya dengan wawancara kerja. Tentunya ini akan menjadi hambatan buat move on dong. Tips itu gak sepenuhnya benar kok, gak selamanya lu mesti ikutin tips. Namanya juga tips, itu kan untuk memotivasi aja..” sang pakar menambahkan.



Senada dengan itu, @Fikhanza , seorang Social Media Strategist pun berkomentar, “Sebenarnya perusahaan itu butuh SDM. Kita (pelamar) harusnya punya nilai jual. Dandanan rapi sih oke oke aja, tapi percuma juga dandanan lo rapi kayak pangeran tapi pas ditanya mau digaji berapa jawabannya malah ‘terserah bapak’. Perusahaan umumnya akan menyaring SDM yang mampu mengenal dirinya sendiri, punya prinsip, dan percaya diri dengan kemampuannya, apapun itu. Makin besar percaya diri lo, justru makin tinggi harga lo”   




Benar saja, gadis 22 tahun ini, ternyata memiliki prinsip tidak akan memakai sepatu heels demi tuntutan pekerjaan. Berkat ketegasan prinsipnya, ia malah dipercaya untuk menangani akun-akun social media dari brand ternama, tanpa harus terbebani mengenakan heels.



“Berapa banyak kita digaji itu kan kita yang nentuin. Kita yang matok  harga atas kualitas yang kita percayai pada diri kita. Dari situ kita bisa berkaca pada diri sendiri sudah seberapa berkualitas kah kita dalam menangani pekerjaan yang dilamar. Bisa atau tidak bisa melaksanakan pekerjaan itu nomor dua, yang penting jalanin dulu. Perfection comes with process, just learn it by doing. It’s not just about job and money. Wawancara kerja itu untuk memperkenalkan diri kamu. Jangan pernah menganggap kita itu butuh pekerjaan, tapi buatlah pekerjaan itu yang membutuhkan kita. It’s not about how to slave you, It’s about how to sell you!” paparnya.



Oleh : Sultan Kata Isnainsyah 


Related Articles

10 komentar:

  1. Your Job isn't your CARREER
    #Rene Suhardono

    Artikel menarikk :)

    BalasHapus
  2. iya bnr jg ni. gw pernah interpiew cuma sendalan duank wkwkw

    BalasHapus
  3. bener dkali.. kalo kita diwawancara itu jantung kayak mau copot.. degg dugg dagg.. palagi kalo liat muka si bos yang sangar2 gitu.. hehe

    BalasHapus
  4. wah..wah.. tulisannya menggugah hati saya..
    :)
    nice post :)
    kapan2 saya berkunjung lagi kesini..

    BalasHapus
  5. bekal buat masa depan, artikel yang menarik Tenma :)

    BalasHapus
  6. Kadang kita sudah takut duluan
    Kadang kita sudah khawatir duluan
    Padahal bisa jadi orang mencari orang yang teguh pada prinsip

    BalasHapus
  7. Jikalau "Jonathan" diganti "bejo"..hehe

    BalasHapus