In Brand Story

Masih Minat Pakai BlackBerry ?

















Anda semua tahu BlackBerry kan? Ya, BlackBerry, bukan WhiteBerry – meski beberapa produknya warnanya putih – Benda kecil, senang menempel pada genggaman tangan anda, berbentuk bulat, well, oke gak sepenuhnya bulat, ada yang lonjong, ada yang kotak, ada juga yang ga berbentuk – sliding, katanya -. Ah,kalian tahulah bendanya yang mana.

Ya, benda itu, pada awalnya sangat memikat perhatian kita. Tepat 2 tahun lalu, anda, istri anda, anak anda, bahkan supir Sandiaga Uno pun terpikat oleh rayuan benda kecil nan katanya pintar ini. “Smartphone” – begitu mereka mengklaim produknya. Smartphone – smart = pintar/cerdas, phone = telephone / telepon – bukan klepon ya. Jadi, telepon cerdas. Entah karena saking cerdasnya makanya disebut demikian saya juga kurang faham.

Benda ini, dianggap cerdas karena susunan huruf dan angka yang kemudian disebut keypad nya berbentuk QWERTY – susunannya mirip keyboard pada computer/laptop. Selain itu, BlackBerry juga dianggap cerdas karena kemampuannya mengakses internet dan aplikasi social media hanya dalam beberapa menit dengan genggaman tangan anda! Tanpa harus pakai wifi, tanpa harus pakai modem, dan lain-lain. Terobosan? Hmmm, mungkin saat itu ya?

Perasaan sih handphone lama saya Sony Ericsson keluaran tahun 2005 juga udah bisa melakukan itu, meski tak secangguh BlackBerry yang memiliki social media sebagai aplikasi dan bukan mobile web (bedanya apa sih socmed app dan mobile web? – socmed app bisa di akses via icon socmed, mobile web ya lu musti masuk ke webnya dulu. Misal, buka twitter tinggal pencet icon burung yang masih berjambul saat itu)

Back to topic, Nah, si BlackBerry ini kemudian juga mengaku dirinya “cerdas”karena punya aplikasi eksklusif yang ga ada di handphone lain. Yak, semua pasti tau dong, aplikasinya namanya BlackBerry Messenger atau sekarang popular disebut dengan BBM. Lalu, semua orang terpukau dan terpana dengan aplikasi BBM yang memungkinkan antar manusia berkirim pesan, audio, video, dan gambar tanpa harus memakan pulsa sms dan dianggap “gratis” – padahal, untuk menikmati aplikasi BBM, anda harus membayar pulsa kisaran 100.000an per bulan – Bagaimana mungkin anda bisa bilang ini gratis? Sungguh ini benda yang membodohkan kita semua.

Yak, semua orang senang. Mulai dari bapak-bapak, emak-emak, remaja, sampai bocah SD pun sekarang keranjingan benda yang namanya BBM ini. Setahun lewat, muncul banyak BroadcastMessage (kalau jaman masih sms-an ini sama fungsinya kayak sms “sent to all”) yang bilang kalau “Research in Motion (RIM-perusahaan yang mengeluarkan produk BlackBerry)  ingin upgrade BBM, kamu harus Broadcast ke semua kontak, jika tidak BB kamu akan rusak” blab la bla, macam-macam Broadcast Message (BM) pun bermunculan. Mulai dari kisah pacaran sama hantu di sekolah, sampai kisah nenek-nenek meninggal gara-gara ngelahirin yang kalau pesannya tidak disebar kamu akan disamperin rohnya atau besok tiba-tiba kamu dihipnotis bunuh diri. Anehnya, BM-BM macam gini memakai dalil-dalil kitab kepercayaan tertentulah, memakai kata-kata “as seen on TV!” dan semua stasiun televise pun terkenal karenanya. Dan anda pun mungkin jadi salah satu ‘korban’ yang pernah percaya beginian.

Setahun lewat, BlackBerry mulai kayak kacang goring, tukang becak pun pakai BB. Masyarakat mulai sadardan dewasa mengirimkan BM. Mulai keranjingan ngegosip di yang namanya Group BBM (bergosip ria hanya dengan kontak tertentu yang sudah dipilihkan). Biasanya satu Grup BBM gak cukup. Ada yang buat TTMan, ada yg buat temen kantor, ada yang buat reuni SMA, ada yang buat calon pacar, dan lain-lain. OS BlackBerry pun haus diupgrade, hampir tiap bulan kasih notifikasi ”BlackBerry anda sudah ketinggalan jaman, yuk upgrade ke versi yang terbaru”. Dengan akun social media appnya semua aktif, plus ikut lebih dari 3 grup BB, plus BBM aplikasinya di upgrade terus-menerus, apa yang terjadi?

Yak, seperti yang sudah anda duga, BlackBerry pun hang/error/berhenti di tengah operasi OSnya/ngadat/ atau apapunlah anda menyebutnya. Lalu semua orang sibuk mendelete grup yang gak penting, sibuk men-delete aplikasi-aplikasi tambahan lain yang dianggap gak penting. Dan dunia pun terasa sepi. Anda cuma bisa BBMan.

Di saat krisis eksistensi semakin mengakar, jeng, jeng, jeng, jeeeeng! Muncullah Apple - iPhone! Layar sentuh, internet lebih gahol, dan gak ngehang! Lalu semua orang pun berpindah ke iPhone. Ditambahlagi di iPhone ada aplikasi fotografi terpopuler yang hanya ada di iPhone, namanya Instagram. Dan semua orang heboh pakai instagram. Jepret sana-sini, ga ngerti padahal apaan yang dijepret. “Jepret aja dulu, edit-edit dikit, masukin pesbuk, masukin twitter, masukin tumbler dan gue pun jadi beken, hohoho!” – begitulah kira-kira ungkapan untuk early adopter (orang2 yang nyobain pertama kali) iPhone di Indonesia. Kemunculan iPhone tak berjarak lama dengan kemunculan teknologi computer tablet yang kita kenal dengan iPad. Maka, dari sinilah awalnya orang-orang berkata “say goodbye to my blackberry”.

Tapi sampai disitukah? Ohoho tentu tidak. RIM masih menyombongkan diri dengan berkata “iPhone itu mahal! Eksklusif! Cuma buat kalangan tertentu!” (lah, perasaan juga awal-awal BB muncul juga begitu bukan?) Yap, BlackBerry pun semakin merakyat untuk ngalahin itu iPhone. Sampai-sampai kalau anda search di youtube kata kunci “Indonesia, BlackBerry Nation” itu ada bule entah siapa namanya, riset kalau Indonesia adalah Negara yang konsumennya BlackBerrynya tertinggi di Dunia, bisa dibilang “negaranya BlackBerry”.


Sayang, ini pun gak lama usianya. Tiba-tiba muncul saingan iPhone yang harganya bahkan sama miringnya dengan harga BlackBerry. Layar sentuh pula! Yak, namanya mister Android! Android phone sempat disebut-sebut sebagai rivalnya iPhone dalam industry telekomunikasi dunia. Produk Google satu ini memang ga ada habisnya kalau dikulik-kulik. Mulai dari android phone, kini pun sudah bermunculan androit tablet. Samsung Galaxy menjadi salah satu yang terpopuler dari semua android tablet yang ada.

BlackBerry gak mau ketinggalan, sempat pula doi bikin BlackBerry Playbook – tabletnya pengguna BlackBerry. Sayang, harganya kalah miring sama harga-harga android. Apalagi android phone dan tablet banyak diduplikasi para pedagang dari Negara tirai bamboo yang terkenal dengan kungfu dan pandanya ituh.

Tiba-tiba Steve Jobs meninggal, minat pasar terhadap produk-produk Apple pun menurun. Android dan Google pun makin membusungkan dada. Seakan – akan kasih kode buat semua orang “hayo, siapa lagi yang mau lawan gua?”





















BlackBerry apa kabar?

Entah kenapa, mulai hari ini saya sering mendengar kawan-kawan saya berkata “Ini 2012 sob, masih aja pake BB. Artefakin aja. Udah lemot, sering hang, internetnya gak sekenceng android pula” | “tapi sayang kontaknya sih” – ungkap pemalas yang malas minta nomor HP orang-orang yang ada di kontak BBMnya, padahal android sudah menyediakan aplikasi whatsApp dimana kamu bisa melakukan hal yg sama dengan yg dilakukan BBM. Cuma, bedanya di whatsApp kamu gak perlu takut dengan yang namanya “PING!!!” dan semua kontaknya menggunakan Nomor HandPhone, bukan PIN yang entah dari mana asalnya itu.

Jadi, masih minat pakai BlackBerry?

Related Articles

11 komentar:

  1. haha koplak nih tulisan! XD

    BalasHapus
  2. tan, ada typo, kata canggih jadi cangguh..
    nice post tan, hahaha, untung w ga pake BB..
    masih berkutat sama henpon nokia jadul tahun 2005an :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. atikah: iya tik, "cangguh" itu bahasa moderennya " canggih " *ngeles* wkwkwk XD

      Hapus
  3. tulisan yang lumayan menarik...jujur, aku bukan orang yang terlalu tergila-gila dengan gadget...memilih pakai BB juga karena HP Samsung jaman jadulku rusak...hhm~ saat ini, aku pun belum tertarik untuk menukar BB yang aku gunakan dengan HP baru...sudah terbiasa menggunakan BB...hehehehe... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu artinya anda adalah end user, hak masing-masing orang mau pakai apa pun yg nyaman menurut dia, yg gk banget itu para fanboy-fanboy BB yg fanatik berat sama tu hape,, kalo Fanboy Android masih sesuai realita, nah kalo Fanboy BB itu songongnya minta ampun, gk sesuai fakta dan realita, pokoknya BB dia elu-elukan walau penuh kebohongan.

      Hapus
  4. 0-10 tahun: gak punya hape. 10-20 tahun: hape nokia jadul. 20-25 tahun: blackberry. 25-50 tahun: beli semua produk apple (hahaha). 50-meninggal: menjauhi segala macam dan jenis handphone (mungkin di zaman ini manusia udah bisa teleport, jadi ga perlu lagi make handphone) :p. #BeAnEducator hahahaha :p

    Yaa make hape tergantung kebutuhan aja tan, kalo mau ikutin jaman mulu ga ada gunanya XD

    BalasHapus
  5. blekbeli ya... tapi kayanya temen-temen saya masih pada betah dan bertahan pake bb dengan alasan bbm-an adalah komunikasi tersimpel dan gawl -_-

    BalasHapus
  6. saya masih sedikit berminat sih pake BB,
    pake dua HP sih maunya,
    skrg baru andro hahaha

    BalasHapus
  7. masih pakai bb dan kerjaan harian pake tab.
    soalnya dapet tabnya gedeee ga praktis buat ditenteng kemana2 :))
    someday kalau dikasih lagi tab yg kecilan, ni bb kyknya buat pacaran aja deh #eh

    BalasHapus