In Media Sosial

Akun Media Sosial, Parameter Politik Gaya Baru?


Masih ingatkah anda bagaimana Barrack Obama memaksimalkan Facebook pada pemilihan Presiden Amerika tahun 2008 lalu?

Ya, saat itu Obama berhasil mengumpulkan lebih dari 1,5 juta pendukungnya melalui media sosial. Utamanya Facebook, My Space dan Youtube. Tak ketinggalan, video game pun sempat menjadi media kampanye Presiden Amerika yang pernah memiliki kenangan masa kecil di Indonesia ini.

Ada 18 jenis game keluaran Electronic Arts, termasuk diantaranya Burn Out Paradise dan Nascar ’09. Anda dapat menemukan billboard bertuliskan “early voting has began:voteforchange.com” pada setting tempat game tersebut. Ini menjadi salah satu strateginya untuk menggaet pemilih muda usia 18-21 tahun di negeri paman Sam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Meningkatnya pengguna facebook dan twitter sejak tahun 2008, memang menjadi kesempatan bisnis yang terbuka lebar bagi para pelaku bisnis. Seorang pengamat bisnis, sekaligus Investor dari perusahaan IndoSterling Capital, WilliamHenley pun berkomentar, “Media Sosial dalam format saat ini pada dasarnya berkembang karena dimungkinkan oleh pekembangan teknologi. Sebagai sebuah konsep yang masih relatif baru, berarti masih terbentang luas opportunity untuk berkembang karena masih merupakan lahan baru yang egaliter untuk seluruh pemain.” Hal ini kemudian memicu berkembangnya banyak perusahaan yang bergerak di ranah media sosial. Baik dalam bentuk agensi, konsultan, maupun penyedia servis pihak ketiga. Seperti di antaranya, Reksamedia, Stratego dan Bubu.

Di bidang politik, kesuksesan Obama pada pemilu Amerika Serikat 2008 lalu, menjadi gelombang inspirasi untuk para tokoh, pengamat hingga pelaku politik di Indonesia. Sebut saja, Fadjroel Rahman, Denny Indrayana, Indra J.Piliang, Wanda Hamidah, Iwan Piliang hingga Walikota Solo yang kini mencalonkan diri sebagai salah satu Calon Gubernur (CaGub) DKI Jakarta periode 2012-2017, Joko Widodo, tampak aktif di dunia media sosial, utamanya twitter.

Walikota yang terkenal dengan gaya memerintah nguwongke rakyat kecil itu sudah aktif ber-twitter sejak September 2011, lalu. Ia bahkan sempat mengaku pernah memiliki akun Kaskus dan Facebook. “Saya operasikan sendiri, tapi ya pas ada waktu longgar,” ujarnya ketika ditanyai perihal admin akun media sosialnya itu.





Sejak Selasa (10/07), lalu, nama dan akun twitter Jokowi terus dielu-elukan di linimasa twitter. Bahkan, pada hari pelaksanaan Pilkada DKI 2012, Rabu (11/07), kata “Jokowi” sempat mewarnai Trending Topic Twitter di Indonesia. Meski saat Trending Topic ini terjadi pilkada masih berlangsung, namun menjelang malam hari, nampaknya Jokowi telah ‘mendulang suara’ cukup besar.

Sebuah situs yang menyediakan informasi terkini tentang percakapan yang terjadi di dunia media sosial, SalingSilang.com , kini memiliki mesin pengukur yang disebut SX Index untuk menghitung sentiment positif dan negatif dari setiap pembicaraan yang terjadi di dunia maya. SX Index, baru-baru ini telah mengeluarkan hasil penelitiannya terhadap pembicaraan masyarakat dunia maya seputar pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012 yang telah dilaksanakan Rabu, (11/07) lalu.






Menurut penelitian percakapan twitter melalui mesin SX Index, pasangan nomer urut 5 yang diisi oleh pasangan Faisal Basri dan Biem Benyamin memiliki persentase sentimen positif tertinggi diantara pasangan lainnya. Mereka unggul dengan angka 92.43%. Sementara pengumpul persentase sentimen positif terbanyak berikutnya adalah; pasangan yang diusung oleh Golkar, Alex Noerdin– Nono Sampono dengan 84.49%, Hidayat Nur Wahid–Didik J. Rachbini 79.91%, Hendardji Supandji–Achmad Riza Patria 78.59%, Joko Widodo–Basuki Tjahja Purnama 78.27%, dan terakhir adalah pasangan Fauzi Bowo–Nachrowi Ramli 70.98%.

Sementara itu, jumlah pengkicau status twitter seputar Jokowi-Ahok menempati posisi teratas dengan 89,945 pengkicau, dan pasangan Foke-Nara menempati posisi kedua dengan 73, 314 pengkicau.
Di sisi lain, penghitungan quick count  pilkada DKI 2012 menurut Lingkaran Survei Indonesia (LSI)  juga menempatkan Jokowi-Ahok di urutan teratas dengan 43,04%. Lagi-lagi, gubernur incumbent Fauzi Bowo membuntuti dengan 34,17%.

Peristiwa ini sepintas tampak serupa dengan peristiwa survey sebuah perusahaan pengembang media sosial di London bernama Lithium. Dr. Michael Wu, seorang peneliti dari Lithium pernah mengkaji percakapan di dunia maya tentang pemilihan walikota London.

Dr. Wu mengkaji dan mengukur sentimen di media sosial memanfaatkan mesin pemantau media sosial milik Lithium. Lalu ia mengembangkan analisis terhadap sentimen publik tersebut, bukan hanya dari Twitter, ia juga memasukkan data dari blog, Facebook, forum dan berita di media online. Dari dua kandidat utama yang dikaji, Boris Johnson dan Ken Livingstone, ia menemukan bahwa Boris mendapat sentimen 54% dan Ken 46%. Temuan ini tak berbeda jauh dengan kenyataannya, Boris Johnson akhirnya mengalahkan Ken Livingstone dalam pemilu tersebut. Meski demikian, Dr. Wu berpendapat bahwa hasil penelitiannya tak jauh dari sekedar "tebakan beruntung."

Hal ini menunjukkan, bahwa pembicaraan yang terjadi di dunia maya melalui media sosial, sedikit banyak mampu memberikan pengaruh yang sama terhadap perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat di kehidupan nyata.

Tidak ada gerakan atau kampanye yang istimewa dari akun-akun media sosial milik Jokowi. Konsistensinya dalam berbagi ide dan aspirasi melalui media sosial, membuat walikota yang sempat disebut-sebut masuk nominasi walikota terbaik di dunia ini, terus menjadi pembicaraan menarik di dunia maya. Hingga kini, Jokowi telah memperoleh sebanyak 174, 711 orang pengikut di twitter dan masih akan terus bertambah. Akankah keaktifan Jokowi di media sosial bisa menjadi parameter politik gaya baru? Ataukah ia tak lebih dari sekedar beruntung?  



Nah, sekian dulu tulisan saya hari ini. Jika menurutmu tulisan ini menarik, mohon bantuannya untuk klik tombol "tweet" di bawah. Jika ada kripik dan saran bisa langsung klik "show comment" di bawah. Thanks for reading. ^^






Related Articles

1 komentar:

  1. rika bukan orang jakarta nih :p tapi ya, orang lurus itu pasti menang kok #dor

    BalasHapus