In Media Sosial

Apa Itu Engagement Media Sosial?




“Dia yang bersuara nyaring, hanya dapat mendengarkan suaranya sendiri. Mereka yang memiliki pengetahuan, sesungguhnya mendengarkan dengan nurani. Dan mereka yang menutup telinga tidak akan bisa mengetahui kedatangan maut.” Begitulah kutipan yang saya ambil dari  The Book of Cataclysm.

Seperti yang kita semua telah ketahui, belakangan ini semakin banyak perusahaan dan brand berlomba-lomba memasuki era social media. Bahkan sudah menjadi hal lazim bagi beberapa di antara kita yang saling bertegur sapa dan berkata “Hei, saya baru saja menjadi spesialis media sosial” “Oh, ya? Saya juga!”

Ya, di zaman inilah industry saling bersaing membuat account facebook, twitter, google plus, email, website internal, blog, youtube, hingga rela mengeluarkan kocek untuk biaya iklan di media internet.
Meski demikian, banyak diantara perusahaan tersebut menganggap, hanya dengan menggunakan media sosial mereka dapat dengan bebas melakukan broadcast pesan-pesan komersial kepada audiensnya. Meski memang ini merupakan hasil jangka panjang. Namun, tak banyak yang memahami bahwa hal ini merupakan hasil jangka panjang, bukan jangka pendek dan instan. Sehingga mereka seringkali berkata “pakai saya” “pilih saya” “coba saya” “beli saya” pada medianya masing-masing. Hal ini tentu saja membuat audiens muak dan bosan. Jangankan setelah kemunculan media social, sebelum media social ada, masyarakat pun sudah mulai selektif dalam mengkonsumsi dan cepat bosan dengan promosi iklan yang asal mebombardir dan tidak menghargai privacy room mereka.

Lalu, untuk apa sebenarnya perusahaan atau brand perlu terjun ke media social? Jawabannya sederhana, untuk membentuk sebuah engagement dengan audiensnya.

Apa itu engagement media social?
Mari kita bahas menggunakan analogi sederhana. Bayangkan strategi media social anda seperti sebuah kisah perempuan yang bertemu dan jatuh cinta kepada Joni pada sebuah acara, dengan anda sebagai pihak perempuan.



Bayangkan Joni adalah seorang pria berbadan proporsional, menggunakan baju bermerek Armani yang kancing atasnya dibuka sedikit, rambutnya tertata rapi namun terlihat berwibawa, memiliki senyum memukau dan mengendarai Lamborghini Aventador di Jakarta. Sebuah gambaran sempurna untuk seorang Alpha Male kan? Kemungkinan besar, para perempuan akan meliriknya karena kesan pertama begitu menggoda. Mereka berfikir Joni adalah seorang berjiwa muda, dinamis, dan atraktif. Lalu anda, sebagai salah satu perempuan di ruangan itu mendekatinya untuk memulai sebuah perkenalan. Yang terjadi adalah:

Pembicaraam / Conversation
    Anda  : “Hai, aku Sherine. Seru ya acaranya? Bagaimana pendapatmu?”
Joni    : “Hai, Sherine. Aku Joni, ya acaranya keren banget. Ohya, aku seorang pekerja di perusahaan X, kamu..”

Lalu pembicaraan akan terus berlanjut hingga sepuluh menit ke depan. Joni banyak menceritakan tentang dirinya, prestasinya, hasil kerjanya, hobi dan alamat rumahnya. Dia terus menceritakan tentang bagaimana hebatnya dia sebagai seorang pria. Setelah beberapa lama bicara, Joni kemudian meninggalkan anda tanpa mengetahui  atau menggali apapun tentang diri anda.

Alternatif
Berapa pun menariknya kisah Joni yang diceritakan kepada Anda, anda akan berfikir singkat bahwa Joni telah mengendalikan pembicaraan sesuka egonya tanpa memperdulikan kehadiran anda sebagai audiensnya. Inilah yang terjadi pada brand atau perushaan jika mereka terus-menerus melakukan komunikasi satu arah tanpa memberikan added value (nilai tambah) pada pembicaraan yang telah dimulainya bersama suatu komunitas atau audiens.

Bayangkan jika Joni ternyata adalah orang yang ramah, lebih banyak bertanya tentang siapa anda, domisili anda, hobi anda, pekerjaan anda, hal-hal yang anda suka, dan ikut tertarik pada hal-hal tersebut. Tentunya anda akan merasakan hal yang berbeda terhadap Joni. Anda akan merasa nyaman sebagai audiensnya. Bahkan, mungkin anda tidak perlu berfikir dua kali jika Joni meminta anda untuk mengikutinya ke tingkat hubungan yang lebih lanjut, ataupun sekedar menjadi teman atau relasi bisnis. Inilah yang disebut dengan engagement media social. Terjadinya sebuah ikatan komunikasi yang baik antara brand atau perusahaan dengan audiensnya.

“Kesan pertama begitu menggoda” adalah ungkapan yang sudah umum di telinga kita. Begitulah yang terjadi jika brand atau perushaan memaksakan kehendaknya untuk hadir di media social tanpa persiapan dan visi tertentu. Akan jauh lebih baik jika sebelum memasuki ranah media social, perusahaan atau brand tersebeut mengenali lebih lanjut tentang bagaimana audiensnya bersikap di media social, channel mana saja yang audiensnya banyak temui, kapan dan darimanasaja mereka mengaksesnya, dan lain sebagainya. Kesiapan ini akan membuat brand atau perusahaan yang terjun ke media social mampu melakukan komunikasi yang lebih terbuka dengan audiensnya. Hal ini tentu tak hanya berlaku bagi perusahaan atau brand saja, melainkan juga bagi siapapun yang memilih untuk membangun citra diri untuk kepentingan tertentu di media social. Sudahkah anda memulainya? Yuk! J


Nah, sekian dulu tulisan saya hari ini. Jika menurutmu tulisan ini menarik, mohon bantuannya untuk klik tombol "tweet" di bawah. Jika ada kripik dan saran bisa langsung klik "show comment" di bawah. Thanks for reading. ^^





Related Articles

3 komentar:

  1. Hai Joni, nama kamu sebenarnya kan Andrew Garfield. Kenapa sih pakai pseudoname di media sosial? :))
    Jadi agar engagement lancar, erat & akrab, twitter handle sebuah brand sebaiknya nama brand tersebut atau perlu bikin twitter handle lain yang lebih 'manusia'?

    BalasHapus
  2. ahaha halo kakak sabai, sebenernya untuk engagement lancar, erat dan akrob sebaiknya tetap memakai nama brand tersebut, cuma dengan copywriting username twitter yang lebih 'manusia' dan konten yang juga sangat 'manusia'. Contoh username yang 'manusia' misalnya @HaloBCA , atau @SahabatNoah ada unsur prominence & proximity (kedekatan dan keakraban) pada username tersebut. namun jika nama brand sudah darisananya tidak bisa dipaksakan untuk jadi 'manusia' ya sebaiknya tidak usah dipaksakan, seperti @beritasatu misalnya, agak terlalu dipaksakan jika harus berubah jadi @temanberitasatu . Untuk konten yang lebih 'manusia' sebenarnya ada beberapa hal dasar yang harus dipenuhi seperti: melakukan follow back, merespon inputan dan kritikan yang masuk, tidak memposting seperti robot, tidak berakting seolah2 tahu semuanya tentang customer/audience, konsisten dalam mengolah dan mempublikasikan konten, tidak promo terus2an (hard sale), tidak memaksa (being pushy) sekian kakak menurut pendapat sayah ^^

    BalasHapus
  3. Bila Joni adalah seorang alpha male, sudah sewajarnya bila ia bersikap seperti itu.. tebar pesona dan bla bla bla. karena alpha male sejatinya adalah dominance, power and control. berbeda dengan glossy (meminjam istilah HS) yang sedikit menurunkan ego dan mengkombinasikan dengan empati sehingga menimbulkan engagement.*salah topik*

    anw, nice konten... tapi kotak abu abu disebelah kiri yang naek turun ini ganggu banget

    BalasHapus