In Arts and Poetry

Kala

Ada kalanya
Manusia marah
Kecewa
Menangis
Berdarah
Gelisah
Di saat orang lain tak mengetahui apapun tentang mereka
Itu bukanlah saat yang menyenangkan
Tidak, tidak sama sekali
Ada saatnya,
Ketika bulan bersinar redup
Kelam meski bercahaya
Tanpa bintang-bintang mendampinginya
Di saat semua orang hanya bisa berkata,
"Mendung"
Lalu mereka mempersiapkan diri untuk menyelamatkan diri masing-masing
Tanpa perduli
Tanpa perduli
Bahwa cahaya telah mati
Di saat itulah
Kau hanya akan melihat kelam
Dan mengabaikan semua kesempatan yang melintasimu
Kau membiarkan semuanya pergi
Entah kemana
Entah untuk apa
Di saat itulah manusia berbondong-bondong mencari cahaya
Cahaya yang menurut mereka adalah kebenaran
Padahal mereka tahu
Bahwa cahaya itu dekat
Bahkan terlalu dekat
Sampai mereka tak mampu melihatnya
Atau bahkan tak mau melihatnya
Karena itu,
Bukanlah kebenaran yang mereka inginkan
Ada saatnya
Dimana orang-orang serakah tahu
Bahwa keserakahan mereka tiada guna
Membabi buta tanpa alasan
Padahal mereka tahu
Bahwa babi pun tidak buta
Ada saatnya
Dunia ini akan kembali seimbang
Di saat semua orang panik
Bimbang
Enggan untuk berfikir
Enggan berkorban
Kecuali untuk dirinya sendiri
Ada saatnya
Kita semua akan berpindah kereta
Dan mengetahui bahwa kereta yang kita naiki sebelumnya adalah kereta yang salah
Ada saatnya kita semua akan berjalan menuju kebenaran
Tanpa pembantaian
Tanpa pengorbanan
Tanpa darah dan dosa
Tapi tidak hari ini kawan,
Tidak hari ini
Karena itulah aku tak memberikan titik
Hingga titik itu muncul dengan sendirinya
Memberi petunjuk pada manusia
Kapan mereka harus berhenti
Karena itu, mereka akan tahu kapan harus memulai
Meniadakan rasa sakit
Meniadakan kebencian
Meniadakan dendam
Dan memulai sebuah awal
Menuju kebenaran
Kepada kebenaran
Tapi tidak hari ini,
Karena kala itu 'kan datang.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar