In Wanderlust

Tonggana, Berkendara Di Tepian Taman Mini



Di bawah pepohonan rindang komplek wisata hiburan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tampak seorang pak tua dengan keringat membasahi tubuhnya. Kemeja putih yang ia kenakan tak lagi mampu melindunginya dari panas terik sang mentari. Sesaat ia berdiri, lalu merengguk satu hingga dua botol air mineral. Dengan handuk di bahu kanannya, ia melangkah mantap menuju mobil berwarna putih, tak jauh dari tempat ia berdiri. Tersurat di badan mobil itu sebuah tulisan, Mobil Keliling Pengunjung Taman Mini Indonesia Indah.

Ialah Tonggana, satu dari enam belas orang pengendara mobil keliling di kawasan TMII.

Mobil keliling telah dipenuhi penumpang. Tonggana, mulai menyalakan mobilnya. Suara gas pun menderu dari balik knalpot, seketika ia tersentak. Matanya menatap nanar pada mentari nan berangsur surut, hendak bersembunyi ke balik horizon. “Sudah lima puluh lima tahun..” ucapnya lirih. Seorang pemuda yang duduk di bangku terdepan pun bertanya, “Ada apa, pak?”

“Oh, tidak. Tiba-tiba saya teringat saya sudah berusia lima puluh lima tahun. Hari ini hari ulang tahun saya” Tonggana menjelaskan.

Mobil keliling Tonggana pun memulai petualangannya, dengan senyum merekah dan tawa lebar, Tonggana menjelaskan satu per satu sejarah dan informasi terkait anjungan-anjungan TMII yang dilewatinya. Tak jarang, pak tua ini sesekali melontarkan canda dan membuat para penumpang terpingkal-pingkal karenanya.

Namun, di balik canda dan kelakarnya, Tonggana masih merasa belum mendapatkan apresiasi yang layak sebagai pekerja di TMII. Sesekali di tengah candanya, ia menjelaskan keluh-kesahnya.

“Sudah lebih dari sebelas tahun saya bekerja di sini. Sekarang saya tahu masa depan bekerja di sini suram.” jelasnya.

Tonggana mengaku, terkadang memang ada masa-masa yang membuat dirinya bangga bekerja di TMII. Tak jarang, tokoh-tokoh nasional, hingga kalangan Menteri menaiki mobilnya hanya untuk berkeliling, menikmati salah satu aset bersejarah bangsa ini.

“Baru beberapa bulan lalu, Menteri ESDM, Jero Wacik dan Menakertrans naik mobil ini. duduknya persis di tempat yang kamu duduki sekarang” ungkap Tonggana seraya menunjuk tempat duduk pemuda di barisan terdepan.

Pria kelahiran Padang Sidempuan ini pun mengisahkan betapa sulitnya ia diterima kerja di TMII sepuluh tahun silam. Tergiur tawaran teman, Tonggana menerima kesempatan berkarir di TMII. Baginya, TMII bukan sekedar taman biasa.

“Ini tempat bersejarah, dulu, tes masuknya saja sulit sekali. Pakai tes tertulis segala. Kalau saya gak kenal orang dalem, wah, tidak akan ada saya di sini menemani anda-anda semua.” lanjutnya.

Sebagai pekerja, Tonggana mendapatkan rumah dinas tak jauh dari TMII. Sayang, rumah dinas tersebut tidak dikelola oleh pemerintah, melainkan oleh pihak yayasan yang juga mengelola TMII hingga sekarang. Setiap bulan, pada saat penerimaan gaji, Tonggana juga biasa menerima bantuan beras dan sembako.  

“Cuma sepertinya bulan ini sudah tidak lagi, kemarin ada pengumuman bahwa beras akan digantikan dengan uang. Mungkin untuk kemudahan” jelas Tonggana.

Meski demikian, Tonggana baru sempat berkunjung ke kampung halamannya pada satu tahun terakhir, tepatnya akhir tahun 2012 lalu. “Yah, mau diapain lagi. Dari sebelas tahun bekerja, saya baru sempat pulang tahun kemarin. Saat anak-anak saya libur, saya harus bekerja. Saat saya libur, anak-anak sekolah. Saya bahkan hampir lupa kalau anak saya yang paling tua sudah kuliah. Bulan depan sudah mau menikah.” ucap Tonggana.


Menurut Tonggana, TMII sangat jarang menerima pekerja baru. Karenanya, setiap beberapa tahun sekali, diadakan mutasi untuk memindah-tugaskan karyawan yang ada.

“Saya saja dulu di pintu tiket hampir lima tahun, di staff hukum, tiga tahun. Sekarang-sekarang aja saya bawa mobil. Cuma ya, gajinya begitu-begitu saja” ia menambahkan.

Di sisi lain, fasilitas mobil keliling yang dimiliki TMII, kini berjumlah total enam belas unit, dengan setiap unitnya hanya dikendarai oleh satu orang pengemudi. Para pengemudi mobil keliling ini adalah para pekerja yang telah mengabdi puluhan tahun dan hampir memasuki masa pensiun.

Berdasarkan data HUMAS TMII, biaya operasional Taman Mini berkisar dua setengah miliar rupiah setiap bulannya. Biaya tersebut sudah termasuk dengan gaji karyawan sebesar satu miliar rupiah.

Liputan6.com pun pernah menyebutkan, bahwa pada tahun 2001 TMII pernah meminta subsidi pemerintah untuk biaya listrik sebesar tiga ratus juta rupiah per bulan.

Namun, pihak pemerintah hingga kini masih enggan untuk mengambil alih pengelolaan TMII dari Yayasan Harapan Kita. Hal ini dikarenakan pemerintah belum melihat struktur organisasi maupun pertanggungjawaban yang jelas dari pihak pengelola.

Mobil keliling Tonggana, kini berjalan menyusuri danau buatan Taman Mini. Tonggana tampak sedikit memalingkan wajahnya ke arah spion mobil. Alih-alih memandang tenggelamnya sang surya ke balik danau, Tonggana perlahan menyembunyikan tetesan air mata nan mengucur dari balik pelipisnya. Perlahan ia berbisik “harusnya dulu ku kejar mimpiku jadi menteri, bisa naik haji.”

Foto: Saya dan Pak Tonggana





Related Articles

7 komentar:

  1. yang miris adalah ketika dia menyebutkan tentang gaji. 11 tahun lho..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah. Tak banyak yg tahu ini adalah efek samping dari pembangunan di masa orba yg terlalu agressive. Mau pindah kerja juga sudah kepalang umur. :-(

      Terimakasih telah ikut berkomentar ya Rochma, salam kenal. Kamu ngeblog jugakah? :-)

      Hapus
  2. Pak Tonggana, jangan pernah menyesal ya pak... *efek baca kalimat terakhir*
    Semoga barokah apa2 yang dikerjakan ya, pak:)

    Menurut Sultan, Apresiasi apakah yang seharusnya diterima Pak Tonggana? *just ask*
    keep it up, tan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa saja, 1. gajinya divariasikan jika sudah dipindah-tugaskan, 2. jam kerjanya jangan terlalu padat, kasih lah kesempatan utk lebih sering ketemu keluarga. thanks ya van. :)

      Hapus
  3. "Harusnya dulu saya kejar mimpi saya." Itu bagian yang...ah... sudahlah...
    seenggaknya semua orang harus kejar mimpinya, bukan cuma punya aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Cuma harus disadari juga, beliau tak mengejar impian karena kebutuhan hidupnya, karena sudah berkeluarga dan butuh biaya hidup. Tak sedikit orang yg terjebak dalam lingkaran berbahaya ini. :)

      Hapus
  4. Btw thanks ya bro sudah ikut berkomentar. Gimana kabar? :)

    BalasHapus