In Media Sosial

Cara ZALORA Meningkatkan Penjualan Melalui Konten Media Sosial



Gambar-gambar mode itu terus bermunculan, buka website berita, gambar itu muncul. Buka media sosial, gambar itu muncul lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Itulah yang seringkali dirasakan calon pembeli ketika berhadapan dengan re-marketing ads yang ditayangkan oleh Zalora Indonesia belakangan ini. 

Zalora adalah toko online fashion dan kecantikan yang menawarkan koleksi pakaian, aksesoris, sepatu dan produk kecantikan untuk pria dan wanita. Berpusat di Singapura, Zalora juga terdapat di Hong Kong, Singapura, Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia dan Brunei. Zalora menjual produk fashion dari brand internasional dan juga brand lokal di setiap negara yang beroperasi. 

Re-marketing adalah suatu fitur mutakhir dari Google Display Network yang bila digunakan dengan benar, fitur ini diklaim sangat dahsyat untuk meningkatkan konversi penjualan transaksi online. Sebagai entitas bisnis e-commerce, Zalora tentunya membutuhkan fitur ini dalam berbagai campaign yang dijalankannya. Meski demikian, re-marketing ads bukanlah satu-satunya revenue funnel yang diandalkan oleh perusahaan fashion ini.

Baru-baru ini SingPost melansir sebuah survey yang menyatakan 8,7 juta kegiatan perdagangan online yang terjadi di Indonesia, 26,4% diantaranya terjadi di media sosial, utamanya Facebook dan Instagram. Hal ini, tentunya tak luput dari perhatian Zalora.

Lalu, bagaimanakah strategi konten yang dilancarkan perusahaan e-commerce fashion terbesar Indonesia ini untuk menampung animo di media sosial?

Layaknya perusahaan yang bergerak di industri digital, Zalora tidak memiliki benchmark pada satu jenis atau gaya konten tertentu saja. Konten media sosial yang dianggap sebagai konten terbaik, bukan saja konten yang engaging dan menarik perhatian audiens, namun juga merupakan konten yang menjual - Ya, menjual, dalam arti harfiah.

Untuk mencapai hal itu, akan sangat beresiko bila konten media sosial hanya menggunakan 1 benchmark tertentu. Karenanya, dalam periode tertentu, tim media sosial Zalora selalu mengadakan A/B testing untuk mengukur performa suatu konten. Baik dari sisi engagement, maupun dari sisi conversion.

A/B testing adalah sebuah tes atau uji coba yang dilakukan dengan membandingkan hasil yang diperoleh dari 2 varian yang berbeda. Dengan membandingkan kedua varian tersebut kita bisa melihat unsur apakah yang menyebabkan satu varian dapat dianggapp lebih baik dari varian yang lain. 

Dalam dunia marketing A/B testing atau juga dikenal dengan split testing dapat diterapkan untuk melakukan tes efektifitas komposisi materi iklan seperti ad copy, layout, gambar dan warna untuk menemukan komposisi manakah yang paling bagus mempengaruhi buying decision orang yang melihat iklan tersebut. Pun demikian dengan membuat sebuah konten di media sosial. Dengan melakukan A/B testing berulang kali, kita dapat menemukan konten media sosial seperti apa yang memiliki performa terbaik. Utamanya, dalam hal ini, conversion yang membuat seseorang memutuskan untuk berbelanja secara online.

Lalu, seperti apakah hasil studi dan A/B testing yang dilakukan oleh tim media sosial Zalora Indonesia?

Konten - konten seperti, influencer's / KOL Post, Video Post, dan Quotes (kutipan), ditengarai sebagai Engaging Content atau konten media sosial yang memiliki engagement rate tinggi dan memiliki kecenderungan konversi klik yang tidak terlalu tinggi.







Sementara Discounted Post / Promo, dan Hard Sale post yang hanya membicarakan brand tertentu dengan kelebihan produknya, memiliki kecenderungan konversi klik yang lebih tinggi dibandingkan Engaging Content.






Hal ini terjadi karena setiap varian konten media sosial membentuk behaviour dari audiens. Ketika Zalora memberikan konten yang mengajak audiens untuk berinteraksi, maka hanya interaksilah yang didapatkan. Pada saat memberikan Engaging Content, Zalora tidak memberikan call to action yang dapat membuat audiens tergerak. Ketika Zalora memberikan konten hard selling, maka audiens cenderung untuk langsung mengklik link yang diberikan dan tidak lagi menengok kembali konten yang diberikan. 

Menyiasati hal ini, tim media sosial Zalora tidak menghentikan A/B testing sampai di situ. Berbagai macam percobaan terus dilakukan, hingga menghasilkan beberapa varian konten yang benar-benar dibutuhkan.

Beberapa konten dengan performa terbaik yang dihasilkan antara lain:

1. Copywriting interaktif yang memberikan fokus hanya kepada 1 link campaign





2. Menggabungkan tutorial dan fokus kepada 1 link campaign



3. Membuat audiens untuk memilih "A" atau "B" diselingi dengan link menuju website pada kedua pilihan.



Meski telah menemukan varian konten media sosial yang dianggap sesuai, demi performa yang semakin membaik, Zalora tetap meneruskan habbit untuk melakukan A/B testing dalam setiap konten yang akan dibuatnya. Zalora menyadari bahwa pengguna media sosial Indonesia bersifat dinamis dan selalu memiliki referensi behaviour yang berbeda setiap harinya.

Berdasarkan pengalaman ini, hingga tengah tahun 2014, 45% hasil penjualan Zalora meningkat dari Facebook dan Mobile Site. Tech in Asia melansir, hal ini membuat Zalora semakin memfokuskan bisnisnya pada penetrasi mobile. Bahkan, tak lama lagi Zalora akan meluncurkan mobile aplikasi yang dapat diakses pada telefon pintar berbasis Android dan iOS. 

Akankah strategi konten media sosial Zalora dapat mengubah habbit belanja online penggunanya di Indonesia? 

Layangkan pendapatmu pada comment box di bawah ini.


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar