In Content Marketing

Strategi Content Marketing Tokopedia - Pemimpin Pasar Marketplace Indonesia




Pada Juni, 2013 lalu, eMarketer - sebuah perusahaan media yang mengamati pergerakan industri digital marketing dan media commerce, melansir pasar e-commerce B2C (business-to-consumer) Indonesia memiliki catatan pertumbuhan terbesar di Asia Pasifik hingga 2017.

Alexa Rank, memposisikan Tokopedia.com pada tangga ke 39 sebagai situs marketplace terpopuler di Indonesia
.
Tokopedia merupakan salah satu mall online di Indonesia yang mengusung model bisnis marketplace dan mall online. Tokopedia, memungkinkan setiap individu, toko kecil dan brand untuk membuka dan mengelola toko daring.

Sejak resmi diluncurkan ke publik dari tahun 2009, Tokopedia mendapatkan seed funding (pendanaan awal) dari PT Indonusa Dwitama, kemudian pada tahun-tahun berikutnya, Tokopedia kembali mendapatkan suntikan dana dari pemodal ventura global seperti East Ventures (2010), Cyber Agent Ventures (2011), Netprice (2012), dan SoftBank Ventures Korea (2013).

Tokopedia, dinilai sebagai pemimpin pasar dalam ranah marketplace online di Indonesia.

William Tanuwijaya selaku CEO mengatakan bahwa saat ini mereka memiliki ratusan ribu penjual yang bertumbuh jumlahnya sebesar 30 persen setiap bulan. Saat ini Tokopedia memiliki 3,3 juta produk aktif, dimana sekitar 2 juta produk terjual setiap bulannya.



Pertumbuhan Tokopedia yang signifikan juga mempengaruhi valuasinya. Tahun lalu saja, marketplace yang melakukan monetisasi dari biaya langganan pedagangnya ini mempunyai valuasi senilai USD 20 juta (atau sekitar Rp 241,16 miliar).

Meski demikian, fokus utama Tokopedia dari perjalanan bisnisnya saat ini ialah meningkatkan jumlah pengguna, baik penjual maupun pembeli. Konsep marketplace yang ditawarkan oleh Tokopedia sebenarnya sudah sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari kita, meski dalam bentuk tradisional, yakni pasar. Layaknya sebuah pasar, ada banyak pertimbangan/faktor yang harus ditelaah sebelum menentukan apakah kita akan berjualan di pasar tersebut atau membuka lapak di lokasi lain.

Faktor-faktor tersebut antara lain: keamanan dan kenyamanan.

Menjadi menarik ketika lapak tersebut tidak memiliki bentuk fisik, melainkan dalam rupa suatu platform digital, dimana tidak semua orang paham dan mengerti bagaimana menggunakannya.



Lalu, bagaimanakah Tokopedia menjawab kebutuhan calon penggunanya dalam hal keamanan dan kenyamanan?

Alih-alih terus menggaungkan keamanan dalam melakukan transaksi digital, Tokopedia memilih untuk memperlihatkan value suatu lapak dari perspektif penggunanya - dalam hal ini, penjual.

Apa sih sebenarnya yang dicari seorang penjual?

Benefit.

Tokopedia kemudian meluncurkan sebuah strategi content marketing yang mengangkat kisah - kisah sukses dari para penjual yang membuka lapak Tokopedia dari awal Tokopedia berdiri.

Seperti kisah Rahajeng Dyah Savitri, salah satu penjual di Tokopedia yang menjual produk organiser hasil kerajinan tangannya sendiri. Kisah ini kemudian diangkat dalam konten video yang ditayangkan melalui kanal media sosial, Youtube.


                                       

Seller Story dari Tokopedia tidak hanya menceritakan kemudian dalam bertransaksi daring, namun juga mengisahkan bagaimana seorang penjual dengan keterbatasan tertentu dapat mencapai impian yang baginya dirasa mustahil terjadi bila dilakukan secara luring.

Anggaran yang lebih efisien, target dagang yang lebih presisi, dan life changing experience menjadi konten andalan Tokopedia yang mampu memikat calon penggunanya tidak hanya untuk membuka lapak, namun juga mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang bisa terjadi bersama Tokopedia.

Dengan ini, Tokopedia tidak hanya memposisikan dirinya sebagai platform penyedia lapak semata, namun juga sebagai entiti yang terus berkembang dan mengembangkan bersama setiap kesuksesan dengan setiap penggunanya.

Tokopedia membangun sebuah hubungan (relationship) yang bersifat simbiosis mutalisme. Hal ini membuat pengguna memandang Tokopedia sebagai rekan yang dapat diandalkan.

Strategi ini tidak lepas dari visi sang pendiri sendiri, William menyadari bahwa yang dibutuhkan UMKM yang belum goes online, bukan sekadar akses ke pasar. Hal yang tidak kalah penting adalah membentuk setiap toko yang terlibat sehingga produk memiliki daya saing, akses ke infrastruktur dan tidak jarang akses ke permodalan.

Dan untuk mewujudkannya, Tokopedia membutuhkan sebuah kepercayaan. Kepercayaan yang dibangun tidak hanya dengan servis dan fitur teknologi mutakhir, namun juga apresiasi terhadap setiap pihak yang terlibat.



Anda adalah penjual atau pembeli di Tokopedia? 

Bagaimana pengalaman Anda saat menggunakan Tokopedia?

Yuk, ceritakan melalui comment box di bawah!

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar