In Arts and Poetry

Mengenal Alex Irzaqi, Sang Jawara Silent Manga Audition







Siapa #sketchunite yang suka komiiiik? 


Well, buat kamu yang suka komik, khususnya manga (Komik Jepang-RED), sudah tahu belum kalau sekarang ada yang namanya Silent Manga (komik diam). Seperti halnya pada film, ada istilah film bisu, di dalam manga pun ada istilah Silent Manga.

Istilah Silent Manga diperkenalkan oleh Tetsuo Hara, seorang mangaka (komikus komik Jepang-RED) yang populer lewat karyanya Fist of The North Star (Hokuto no Ken). 



Menurut Tetsuo, manga ibarat storyboard untuk film bisu. Pemakaian kata dalam manga sangat sedikit dan biasanya terbatas pada percakapan sehari-hari. Kalau bergantung pada kata-kata daripada aspek visual dalam menyampaikan cerita, karya tersebut disebut ilustrasi, bukan manga



Tetsuo Hara
Manga dengan jiwa adalah tanpa dialog. Cerita dapat disampaikan tanpa kata-kata. Inilah kekuatan sejati manga” ujar Tetsuo yang juga merupakan sahabat karib Tsukasa Hojo (mangaka Ryo Saeba - City Hunter)


Pada tahun 2010, Tetsuo Hara pun kemudian mendirikan Comic Zenon, sebuah majalah komik yang memfasilitasi karya-karya mangaka yang berdedikasi pada Silent Manga. Hingga kini, majalah tersebut telah menembus rekor penjualan sebanyak 6,53 juta eksemplar, mengalahkan omset majalah manga terpopular di Jepang, Shonen Jump.



Melalui, Comic Zenon, pada tahun 2012, Tetsuo Hara dan Chief Editor Comic Zenon waktu itu, Nobuhiko Horie, menggelar audisi silent manga internasional bertajuk Silent Manga Audition.






Tak disangka, kompetisi Silent Manga Audition sontak diikuti oleh sebanyak 504 kontestan dari 54 negara. Masing-masing bersaing untuk memperebutkan 26 penghargaan yang ditawarkan. Hasil karya para pemenang juga akan dimuat dalam majalah Comic Zone dan penghargaan tertinggi bernilai sebesar 500.000 yen atau kurang lebih 60 juta rupiah, angka tersebut setara dengan standar biaya produksi untuk penyutradaraan sebuah film anime di Jepang.



Yang lebih mengejutkan lagi, sembilan komikus dari Indonesia mendominasi kompetisi tersebut dengan meraih sembilan penghargaan, mengalahkan Jerman yang mendapat empat penghargaan, dan Thailand yang hanya menggondol tiga penghargaan. Alex Irzaqi, salah satu komikus dari Indonesia, pun menjadi jawara utamanya yang berhasil membawa pulang tak hanya 500.000 yen, namun juga nama harum komikus Indonesia di mata dunia.



Dalam satu kesempatan, sketchmagz.com akhirnya berhasil mewawancarai sang jawara, Alex Irzaqi terkait dirinya dan juga komik yang ia turut sertakan dalam Silent Manga Audition.



Seperti apa sih komikus yang kini menjadi jawara kelas dunia ini? Yuk, kita kenali lebih dekat sosok Alex Irzaqi dengan menyimak wawancaranya di bawah ini!


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

S: Mari kita kenalan, mas Alex ini kegiatan sehari-harinya selain nggambar ngapain aja sih?



Alex Irzaqi


A: Selain nggambar? ya.. makan... tidur... sama maen fesbuk. hahaha. gak ada kerjaan lain. semuanya gak jauh dari nggambar. soalnya bisanya cuma nggambar. gak bisa ngapa-ngapain lagi. kayaknya sih gitu. kayaknya.


S: Kapan sih mas Alex pertama kali merasa sukses membuat komik dan kenapa?


A: wah saya nggak tau definisi sukses disini maksudnya apa. tapi kalau ditanya komik apa yg pertama kali diselesaikan yang saya merasa gembira dengan itu, kayaknya saya sudah lupa. 



Soalnya dari jaman SD juga udah bikin komik. Dan pastinya selalu gembira banget kalau sudah berhasil beresin satu judul. Judul yg pertama.. asli.. saya lupa! 



Tapi sejauh yang saya ingat.. dan karena barangnya masih ada.. judulnya "Jaguar". 

Komik jaman kelas 5 SD. itu komik beladiri silat harimau.


Apa yang paling membuat saya gembira ketika sudah menyelesaikan sebuah judul komik? itu adalah ketika banyak yang membacanya, dan mereka menikmatinya. hadeuh. ini kok malah saya yang bikin pertanyaan sendiri terus dijawab sendiri... NEXT!






S: Menurut mas Alex, komik itu apa sih? dan apa yang membuat mas Alex jatuh cinta dengan komik?


A: Ok, pertanyaan menarik! Komik. Menurut saya, menurut saya kan ya? jadi jawabnya suka-suka saya dong, hahaha. Menurut saya, komik adalah senjata. Karena dunia industri adalah medan perang. Bisa dimengerti gak kira-kira?



Pokoknya saya ini sedang berjuang dan senjata yang saya pergunakan adalah komik, sehingga saya disebut komikus. hahahaha. 



Eh bentar, siapa yang bilang saya jatuh cinta sama komik? emangnya kelihatan seperti itu ya? ahahaha. 



Saya suka komik karena terlanjur dikasih makan komik, dicicipi enak, akhirnya ketagihan.


S: Apa sih hal terpenting yg mas alex perjuangkan melalui komik?


A: Saya memperjuangkan kebudayaan dan kearifan lokal nusantara agar tetap lestari hingga akhir zaman. padahal guenya sendiri aja gak ada arif-arifnya. huahahaha.



Ehm, kita punya banyak sekali filosofi-filosofi, warisan leluhur, prinsip, jalan hidup, moral, ketuhanan, tata krama yang keren. jauh lebih keren dari yang dimiliki bangsa manapun di dunia.



Kita ini bangsa dengan tata krama paling 'hinggil' di seluruh dunia. Mana ada bahasa yang punya krama ngoko krama madya krama alus kayak di Jawa? Kalau pun ada, paling tingkatannya nggak sempurna. Pasti dapet nyontek dari Jawa itu, haha. Bahasa jawa itu bahasa para dewa, orang-orang jawadwipa adalah ras titisan para dewa. Pernah dengar cerita seperti itu tidak? Bangga kan, jadi titisan dewa? makanya jangan malu-maluin dong jadi orang Indonesia. kita ini anak dewa. hahahaha. Ok, itu kapan-kapan saya ceritain di komik aja deh.



Saya jadi sinting kayak gini juga mungkin karna kebanyakan baca manga (salah gaul, nyalahin manga) jadi ya saya lagi berjuang untuk mempelajari kebudayaan dan kearifan lokal lagi. Saya pengen ngajak teman-teman lain belajar bersama saya juga. Belajar dengan komik.



"Asta brata","satya bela bakti prabu","manunggaling kawula gusti". Filosofi-filosofi seperti itu sebagian sudah saya uraikan secuil dalam komik-komik saya sebelumnya. Saya akan tambahkan lagi nanti kalo saya sudah belajar yang lain lagi, maklum nih masih cupu gitu, hehehhehe.


S: Kapan mas Alex mulai memutuskan untuk membuat komik secara professional dan kenapakah?


A: Akhir tahun 2010. Ketika saya memutuskan untuk berkarya di bawah sebuah major label. Artinya saya terlibat dengan dunia profesional. Kenapa? Bagi saya, batas profesional dan amatir dalam berkarya adalah untuk siapa karyanya dibuat.



Amatir membuat karya untuk kepuasan diri sendiri, profesional membuat karya untuk memberikan sesuatu pada orang lain dengan kadar tanggung jawab tertentu.



Saya merasa sudah saatnya mencoba untuk memberikan sesuatu kepada orang lain melalui komik. Maka saat itulah, saya merilis komik sejarah Dharmaputra Winehsuka yang saya persembahkan untuk seluruh anak-anak nusantara. Saya ingin berbagi rasa kebanggan saya sebagai anak nusantara, bisa memiliki kisah sejarah yang menggetarkan dada dengan kemampuan saya yang masih cupu tentunya, hahahahaha. Suer! skill pas-pasan banget. Gaya doang yang gede.


S: Selain Silent Manga Audition yang kemarin ini, apa aja sih prestasi yang sudah mas Alex raih dalam dunia gambar-menggambar, khususnya membuat komik?


A: Prestasi apa nih? Yang juara-juara-an gitu ya? gak ada. 



Saya itu kalau ikut lomba tuh gak pernah menang. Dulu SD, juga kalah sama kakak sepupu sendiri di kelas yang sama. Sejak itu saya catet, kalau lain kali ikut lomba, jangan sendirian, ajak teman. 



Nah, sekarang terbukti tuh! Saya bisa menang Silent Manga Audition juga pasti karena ada temannya, dan karena temannya cewek, tuh, hahahaha.



Sebelumnya juga sempat finalis di kompetisi komik indonesia, itu juga karena ada temannya, tapi cowok, karena itu makanya gak menang, kayaknya. hahahahaha.


S: Siapa sih partner yg memotivasi mas Alex itu hingga membuat kalian menang dalam Silent Manga Audition? Bisa diceritakan sedikit, seperti apa latar belakangnya? Apakah kalian jadian? 


A: Ssssssshhh! Heh! mau tahu aja! gak usah! hahaha. Namanya Fima, kan ada ditulis di komiknya. Sudah, itu aja cukup. :p


S: Darimanakah mas Alex mengetahui informasi tentang Silent Manga Audition? Dan bagaimana cara mas Alex mendaftarkan diri?

A: Dari komunitas. Saya ini komikooz (sebutan untuk member www.komikoo.com-RED) komikooz lain ramai pada ikutan. Ya saya ikutan juga, "anut grubyuk" aja. Maju kabeh sing penting rame! ahhaha.

Caranya? Abad 21 lah, semuanya serba on-line, prosedurnya sudah dijelasin semua di situs panitianya, yaudah tinggal hajar saja.

S: Dimanakah mas Alex mengasah kemampuan menggambar komiknya? Pernah ikut sekolah/kursus tertentu atau belajar secara otodidak? sejak kapankah dimulainya?

A: Diasah di mana? Ya di mana aja. Nggambar gak kenal waktu dan tempat. 

Saya ini udah lihai nggambar sebelum bisa nulis, nggambar dulu, nulis belakangan. hahahaha. ya kayak gini jadinya. Gak usah kursus-kursusan. Kalau belajarnya secara alami, matangnya juga lebih bagus. Meskipun memang butuh waktu lama dan istiqomah

Tapi kan "alon-alon asal kelakon" jadi ya santai aja. Nah, belajar cepat dari kursus-kursus dan semacamnya menurut saya cuma akan matang secara 'karbitan'.  Ya matang, tapi kan gak alami. Yang alami itu lebih sehat, kayak saya ini. sehat kan? hahahaha. 

Kita lihat saja, siapa yang mati duluan. Komikus yang tumbuh alami, atau komikus karbitan. Nah loh, ahhahahaaha.

S: Bisa share kah, apakah ada saat-saat paling dramatis mas Alex yang membuat mas Alex sempat berfikir untuk berhenti membuat komik? Jika ada kapankah?

A: Ada. Saya kan cupu, sekolahnya gak pernah ranking. Orang tua sih gak menekan. Cuma, saya merasa jadi anak tak berguna, hahaha. Sekali-sekali ingin bikin bangga. Saat pertama meninggalkan kampung halaman, mau masuk SMA di kota, saya meninggalkan semua peralatan gambar-menggambar. Saya mau coba belajar secara normal seperti anak-anak lainnya, soalnya selama ini emang gak pernah belajar, nggambar melulu. Di rumah, di sekolah, sama aja. 

Tapi yang namanya bocah ndeso, gubluk pula. Begitu nyampe kota Surabaya, di sono ketemu macem-macem material gambar-menggambar, makin banyak lah pastinya. Seperti komik-komik dan majalah-majalah anime yang gak pernah ada di desa. 

Akibatnya, yang namanya jodoh udah gak kemana, panggilan alam. Barang-barang materi gambar-gambar-an numpuk lagi di kosan saya, huahhahaha. Eh, di SMA, saya direkrut jadi ilustrator majalah sekolah. Yaudah, sejak saat itu udah gak pernah berhenti nggambar, apalagi nggambar komik. Makin menggila! 

Dan saya juga bisa dapat ranking satu tuh akhirnya. Walaupun sama aja kayak SD lagi, kerjanya nggambar mulu di kelas ataupun di kosan. Jadi, sebenarnya gak ada hubungannya juga kayaknya, ranking sama gambar-menggambar, kayaknya hahahaha.

tapi kalo momen-momen dimana saya berhenti nggambar komik, ya pasti ada, saat tidur misalnya, hahahahah. Well, saya juga termasuk komikus yang masih tergantung mood sih.
Ada darah pemalas yang cukup dominan juga, jadi kalau lagi pengen tapabrata meditasi atau guling-gulingan di kasur doang ya udah, komiknya di-pause dulu sejenak. hahahaha.

S: Apa saja project komik yang mas Alex saat ini tengah jalankan? sudah ada karya terbarukah? dan dimana bisa ditemui karya2 mas Alex?


A:  Dharmaputra Winehsuka, Carakan, Raibarong, masuk aja ke www.irzaqi.com ada disitu semua portalnya. Karya terbaru sedang disiapkan, santai aja, hehehe.




S: Gebrakan apa lagikah yang mas Alex ingin atau akan lakukan dalam dunia komik Indonesia? dan apa pesan mas Alex untuk teman2 lain yang masih newbie dalam membuat komik?

A: Belum ingin ngegebrak apa-apa. Kalau tiba-tiba ingin, pasti langsung saya gebrak, hahahaha. 

Masih banyak yang belum dibereskan nih projek-projeknya, banyak tanggungan, jadi gak bisa sembarang iseng nyari perkara, haha.

Soal pesan, sudah berkali-kali saya berikan ULTIMATUM untuk komikus indonesia! Semuanya! baik cupu, maupun yang udah jagoan neon, termasuk saya sendiri :

"cepetan keluarin komiknya! jangan kelamaan! gak usah banyak mikir! yang penting jadi! kalo hasilnya jelek, ya tinggal bikin aja lagi yg lebih bagus! pokoknya hajar aja! udah ditungguin pembaca!"

Perang sudah dimulai, gak ada waktu buat mikirin teori terlalu banyak. Saatnya turun ke medan perang dengan apapun yang kamu punya. PRAKTEK! Yang paling cupu-cupu biasanya sudah ribut soal teknis duluan, gimana ini, gimana itu, pake alat ini, apa itu, tapi bikin satu halaman komik aja belom kelar

Itu sumpah, minta dijeburin ke sumur. Jangan bawel, BIKIN DULU! pake apa saja, gimanapun caranya. yang penting jadi!

Liatin aja komik-komik yang udah jadi, terus cari cara sendiri gimana biar bisa kayak gitu. Semua proses belajar dimulai dari mencontek, nyontek aja masak gak bisa? JIPLAK! gak bisa juga? Kebangetan! Sana, main bola aja! hahahaha.

Sebenarnya kalau kamu benar-benar punya hasrat dengan komik, gak usah disuruh dan tanpa tanya kiri-kanan pun kamu akan asik sendiri ngulik komik. Lha, ini saya buktinya, kagak ada yg ngajarin, jadi tuh kayak begini, hahahaha.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Manga dengan judul "Excuse Me" yang dikerjakan secara kolaboratif oleh Alex Irzaqi dan Fima Rachmawati yang diikutsertakan dalam Silent Manga Audition, ternyata juga mendapat pujian dari Tsukaja Hojo yang turut menjadi jurinya,


"Ada banyak detail dalam sejumlah kecil halaman, seperti bagaimana ia menunjukkan si gadis "cool" ini ternyata memiliki beberapa sisi lain saat mengungkapkan ekspresinya, dan twist yang menarik hingga akhir cerita. Saya melihat potensi besarnya dalam menggambar Manga." ujar Hojo.



Melalui Facebook Fanpage resmi milik tim Silent Manga Audition, mereka mengumumkan untuk berkunjung ke Indonesia dan bertemu langsung dengan sang jawara, Alex Irzaqi!

Kini, Silent Manga Audition kembali membuka submission untuk mencari jawara manga dunia berikutnya. Kompetisi akan kembali berlangsung hingga tahun 2014! 

So, #sketchunite, siapkah kalian untuk ikut berjuang bersama Alex Irzaqi untuk kembali harumkan nama Indonesia melalui komik!? :D












About Writer :
Sultan Isnainsyah
Chief Editor & Co-Founder Sketchmagz.com
Pernah Dipublikasikan Pada: http://www.sketchmagz.com/2013/09/sketchmaster-mengenal-alex-irzaqi-sang.html

Twitter: @sultankata



Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar